Oleh : Firmansyah
Alumni Fisip
Bengkulu – 44 tahun genap usia Universitas Bengkulu (Unib) pada 24 April 2026. Analogi pria usia 44 tahun itu karir sudah jelas kelihatan disertai kematangan spiritual tentunya.
Sejumlah rangkaian Dies Natalis dibentang termasuk merapikan Ikatan Alumni pada masing-masing fakultas. Saya ikut juga seru ramai teman, senior dan yunior kuliah.
Jujur, temu alumni beberapa kali saya ikuti, maklum saya tinggal di Bengkulu ditambah waktu luang saya yang banyak. Namun temu alumni kali ini membuat saya berkesan pada sesi Talkshow.
Talkshownya sore, singkat, digelar diakhir acara saat para alumni yang jadi pejabat sudah pulang kursi-kursi terlihat kosong untung rektor masih ikut nimbrung.
Lima alumni didaulat sebagai pembicara hanya 5 menit satu pembicara, bikin saya yang biasa durasi panjang kalau menyimak merasa tidak puas. Bukan apa-apa, pembicaranya begitu mengangumkan.
Pertama, Prof. Dwi Wahyuni Ganefianti, beliau kakak tertua para alumni, angkatan pertama di Unib pada fakultas pertanian. Ia mengabdikan diri di Unib sebagai guru besar ahli pemuliaan tanaman.
Sederhana ia sampaikan Unib memiliki banyak hasil riset pertanian siap pakai di bidang pertanian, namun lemahnya marketing kalau bahasa saya, minimnya jejaring start up sehingga produk riset pertanian siap pakai nyaris usang di laboratorium dan perpustakaan.
Padahal kata dia, ada alumni Unib yang juga bergerak di bidang start up pertanian. Mulut saya mengaga terperangah namun waktu presentasi Prof. Dwi selesai.
Kedua, dr. Fahrur Rozi Ilahi, alumni fakultas kedokteran, memiliki klinik ternama memawarkan kolaborasi dengan Unib untuk meningkatkan kualitas mahasiswa kedokteran. Baik dari sisi skil, riset dan lainnya.
Ia katakan sudah banyak alumni kedokteran Unib bergerak di luar Bengkulu memiliki klinik, praktek, dan bekerja di banyak fasilitas kesehatan. Mereka siap membantu Unib. Saya ternganga lagi.
Ketiga, Robbie Sugara, alumni Fakultas Teknik, jago AI dan IT pastinya, ia menawarkan sebuah program yang mampu merangkul seluruh alumni sehingga jejaring, potensi, dan kekuatan alumni bisa dipetakan. Mulut saya makin menganga menyimak dengan presentasinya yang singkat itu disertai paparan visual.
Keempat, Usin Abdisyah Sembiring, alumni fakultas hukum, politikus. Ia singkat menegaskan kontribusi alumni dan Unib bagi rakyat harus dicek, indikatornya adalah seberapa banyak hasil riset didayagunakan untuk Bengkulu?
Seberapa serius alumni yang tersebar di banyak tempat terutama pemegang kebijakan bisa mendayagunakan hasil-hasil riset ilmuwan di Unib untuk kepentingan rakyat?
Sayang, diskusi ini tidak diperdalam karena saya meyakini Unib memiliki banyak alumni tersebar di Nusantara dengan segala kemampuan dan jaringan.
Saran Jurnalistik
Saya bolehlah, memberikan saran lewat tulisan ini untuk Unib. Sepanjang menjadi wartawan, Unib memang terkesan tidak aktif dan progresif menyosialisasikan hasil riset para ilmuwannya. Padahal tidak sedikit alumninya bekerja di media lokal dan nasional. Bahkan beberapa alumni Unib pernah dipercaya membangun program pemberitaan nasional dan internasional. Lagi-lagi jaringan ini luput ditangkap.
Bahasa riset ilmuwan memang tinggi serta sulit dimengerti, maka peran jurnalis yang mampu menjadikannya bahasa gurih, renyah seperti kerupuk sehingga publik mampu memahaminya menjadi penting.
Kami alumni bergelut di dunia jurnalistik sekali waktu sering mengulas orasi ilmiah guru besar, membedah riset-riset para dosen namun itu sifatnya inisiatif jurnalis, belum ada inisiatif dari kampus. Unib masih minim artikel karya ilmiah populer terutama di media massa.
Bila langkah ini dilalukan, cerita Prof. Dwi pasti terjawab para start up, masyarakat, akan penasaran dengan riset-riset tersebut.
Bernilai Makna
Apapun yang telah dilakukan panitia reuni patut diacungi jempol. Kegiatan begitu sarat makna dan nilai. Pertemuan singkat itu memperkuat kebanggan kami, bahwa Unib sejatinya luar biasa. Langkah tersebut menyadarkan kami para alumni bahwa kita begitu kuat, kita seperti singa tidur yang harus dibangunkan.
Salam Cinta untuk Kampus Biru, Universitas Bengkulu







