Oleh: Cahyadi Takariawan
Sebuah studi menunjukkan, pelecehan emosional menjadi penyebab terbesar perceraian.
Studi lainnya menunjukkan, alasan perceraian terbesar bermuara pada “suami tidak memenuhi kebutuhan emosional istri”.
Hal ini menandakan, banyak suami yang tidak memenuhi kebutuhan emosional istri. Mungkin sebagian mereka cukup tanggap dengan pemenuhan kebutuhan finansial, namun ternyata kurang memiliki kepekaan untuk memenuhi kebutuhan emosional.
Pelecehan emosional merupakan bentuk pelecehan yang paling umum terjadi –mungkin juga paling berbahaya, karena seringkali tidak sejelas jenis pelecehan lainnya.
Pasangan mungkin terus menderita secara diam-diam di bawah pelecehan emosional dan verbal selama bertahun-tahun sampai suatu hari menjadi tidak tertahankan.
Berbeda dengan pelecehan fisik atau seksual yang lebih jelas bentuk perlakuannya. Adanya lebam,memar, darah, luka, adalah bukti adanya pelecehan fisik. Dalam hal pelecehan emosional, sering kali tidak dijumpai tanda-tanda sejelas itu.
Pelaku bahkan terkadang tidak mengetahui bahwa tindakannya masuk kategori pelecehan dan telah menyakiti perasaan pasangan, serta dapat merusak hubungan.
Untuk itu membangun komitmen dan kesepahaman sejak sebelum menikah adalah tindakan sangat penting. Kedua belah pihak dari calon suami dan calon istri saling berkomitmen dan menyepakati berbagai kondisi terbaik dalam pernikahan nantinya.







