Opini: Belajar Sepanjang Hayat

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh dinamika, semangat untuk terus belajar sering kali memudar ketika seseorang telah mencapai posisi tertentu. Jabatan, popularitas, atau pengakuan sosial kerap membuat seseorang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki.

Padahal, dalam tradisi Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang tidak mengenal batas usia maupun status.
Nilai itulah yang tercermin dalam kehadiran Ustadz Andi Saputra bersama Buya Dr. Sukrianto, Ketua Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Provinsi Bengkulu, dalam kajian yang disampaikan oleh Tuan Guru KH. M. Syamlan, Lc. Kehadiran mereka bukan semata menghadiri sebuah pengajian, tetapi menghadirkan pesan moral yang kuat bahwa seorang pemimpin, ulama, maupun tokoh masyarakat tetap membutuhkan majelis ilmu sebagai tempat menempa diri.

Ustadz Andi Saputra selama ini dikenal sebagai seorang dai sekaligus anggota legislatif. Sementara Buya Dr. Sukrianto merupakan tokoh pendidikan dan organisasi Islam di Bengkulu. Dengan latar belakang keilmuan yang telah dimiliki, keduanya tentu sangat layak menjadi pengajar. Namun, mereka memilih duduk bersama jamaah, mendengarkan, dan menyimak tausiyah. Di situlah letak keteladanan yang sesungguhnya.

Dalam Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula rasa tawadhu yang seharusnya dimiliki. Orang-orang berilmu tidak pernah merasa paling mengetahui. Mereka menyadari bahwa di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih berilmu. Kesadaran inilah yang menjaga seseorang dari sikap sombong dan merasa paling benar.

Majelis ilmu juga memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat memperoleh pengetahuan. Ia menjadi ruang untuk memperbaiki hati, memperkuat iman, sekaligus mengingatkan manusia bahwa kehidupan bukan hanya tentang urusan dunia.

Di tengah kesibukan menjalankan amanah sebagai pemimpin, akademisi, maupun pelayan masyarakat, menghadiri majelis ilmu merupakan bentuk investasi spiritual yang sangat berharga.
Keteladanan seperti ini sangat dibutuhkan, terutama oleh generasi muda. Mereka memerlukan contoh nyata bahwa kesuksesan tidak boleh memutus hubungan dengan proses belajar.

Justru semakin besar amanah yang dipikul, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkaya ilmu, memperluas wawasan, dan memperbaiki diri.
Budaya belajar sepanjang hayat merupakan fondasi lahirnya masyarakat yang maju. Bangsa yang besar bukan hanya memiliki banyak orang pintar, tetapi juga memiliki budaya rendah hati untuk terus belajar.

Ketika para tokoh memberikan contoh dengan hadir di majelis ilmu, pesan yang disampaikan jauh lebih kuat daripada sekadar pidato atau nasihat.
Pada akhirnya, kajian yang disampaikan KH. M. Syamlan tidak hanya menghadirkan ilmu bagi para jamaah, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga melalui sikap para tokoh yang hadir.

Semoga semangat menuntut ilmu, menghormati guru, dan menjaga kerendahan hati terus tumbuh di tengah masyarakat. Sebab, sejatinya, belajar bukanlah fase kehidupan, melainkan perjalanan yang berlangsung hingga akhir hayat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *