Nilai Tukar Petani Bengkulu Turun pada Mei 2026, Subsektor Perikanan Alami Penurunan Terdalam

BENGKULU, GK – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 sebesar 201,95 atau mengalami penurunan 0,02 persen dibandingkan April 2026 yang berada pada angka 201,99.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 36/06/17/Th. XXVIII yang dirilis pada 2 Juni 2026, penurunan NTP terjadi karena kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It).

Bacaan Lainnya

Pada Mei 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani tercatat naik 1,07 persen. Namun di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani meningkat sebesar 1,09 persen. Kondisi tersebut menyebabkan daya tukar hasil produksi petani terhadap barang dan jasa yang mereka konsumsi maupun gunakan dalam proses produksi mengalami sedikit penurunan.

Secara sektoral, penurunan NTP dipengaruhi oleh melemahnya kinerja tiga subsektor utama. Subsektor Tanaman Pangan mengalami penurunan NTP sebesar 1,19 persen, disusul subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun 1,41 persen. Sementara itu, penurunan terdalam terjadi pada subsektor Perikanan yang merosot hingga 2,82 persen.

Di tengah penurunan tersebut, dua subsektor justru menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Subsektor Hortikultura mencatat kenaikan NTP sebesar 48,66 persen, sedangkan subsektor Peternakan naik 1,74 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain NTP, BPS juga melaporkan perkembangan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Bengkulu. Pada Mei 2026, NTUP tercatat sebesar 201,46, turun 0,16 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai 201,78.

Penurunan NTUP menunjukkan bahwa biaya produksi dan penambahan barang modal yang harus ditanggung rumah tangga pertanian meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha pertanian.

Meski mengalami penurunan tipis, NTP Bengkulu yang masih berada jauh di atas angka 100 mengindikasikan bahwa secara umum tingkat kesejahteraan petani masih relatif baik, karena pendapatan yang diterima petani tetap lebih tinggi dibandingkan pengeluaran yang mereka keluarkan untuk konsumsi dan biaya produksi.(rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *