Bincang Bareng Media, Wahyu Beberkan Langkah BI Sikapi Tekanan Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi

Bemgkulu, GK – Bank Indonesia (BI) terus mengambil berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah menguatnya mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate guna menjaga daya saing rupiah sekaligus mengendalikan inflasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate dilakukan sebagai respons terhadap kondisi ekonomi global yang menuntut setiap negara menjaga stabilitas mata uangnya.

Bacaan Lainnya

“Bank Indonesia terakhir menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Sebelumnya juga sudah dilakukan kenaikan, sehingga langkah ini merupakan bagian dari upaya memastikan rupiah tetap kompetitif dibandingkan mata uang negara lain,” ujarnya dalam kegiatan bincang bersama media (Selasa, 9/6).

Menurut Wahyu, terdapat dua alasan utama di balik kebijakan tersebut. Pertama, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap menarik bagi investor di tengah tren kenaikan suku bunga yang juga dilakukan oleh bank sentral di berbagai negara.

“Surat utang dan instrumen keuangan kita harus tetap bisa bersaing dengan negara lain. Karena itu stabilisasi nilai tukar menjadi sangat penting,” katanya.

Alasan kedua adalah menjaga ekspektasi inflasi nasional yang ditargetkan berada pada kisaran 2,5 persen plus minus satu persen. Pelemahan rupiah dinilai dapat memicu kenaikan harga barang melalui mekanisme imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan biaya impor.

“Ketika nilai tukar melemah, biaya produksi sektor yang menggunakan bahan baku impor akan meningkat. Ini kemudian dapat berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa,” jelasnya.

Wahyu menuturkan, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi sejumlah faktor global yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang mendorong peningkatan kebutuhan dolar AS karena transaksi minyak internasional dilakukan menggunakan mata uang tersebut.

“Ketika harga minyak naik, sementara Indonesia masih mengimpor kebutuhan energi dalam jumlah besar, maka permintaan dolar otomatis meningkat,” katanya.

Selain itu, periode pembayaran dividen kepada investor asing dan jatuh tempo pembayaran utang luar negeri juga turut meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir.

“Jadi memang permintaan terhadap dolar sedang tinggi karena ada beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan,” tambahnya.

Terkait perkembangan inflasi di Bengkulu, Wahyu mengakui bahwa inflasi bulanan pada Mei 2026 mencapai 0,86 persen dan tergolong cukup tinggi. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya cabai.

Meski demikian, BI melihat adanya tren perbaikan pada awal Juni. Harga beberapa komoditas mulai menunjukkan penurunan sehingga tekanan inflasi diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

“Di awal Juni ini sudah mulai terlihat melandai. Inflasi masih ada, tetapi kemungkinan jauh lebih rendah dibandingkan Mei yang mencapai 0,86 persen,” ujarnya.

Wahyu optimistis berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia, dapat membantu menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Bengkulu.

“Sinergi seluruh pihak menjadi kunci untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan perekonomian daerah tetap tumbuh dengan baik,” tutup Wahyu.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *