Giliran ESD Murka, Garuda Indonesia Tak Lagi Terbang ke Bengkulu Alasan Load Factor

Bengkulu, GK — Anggota Komisi V DPR RI, Erna Sari Dewi (ESD), meluapkan kekecewaannya terhadap keputusan Garuda Indonesia yang menghentikan rute penerbangan ke Bengkulu dengan dalih rendahnya tingkat keterisian penumpang (load factor).

Dalam rapat bersama mitra kerja, termasuk Garuda Indonesia, Erna secara tegas menyebut kebijakan tersebut tidak adil dan mencerminkan ketimpangan dalam pelayanan konektivitas udara di Indonesia.

“Bengkulu ini mengalah dalam banyak hal, termasuk di udara. Garuda sudah tidak terbang lagi ke Bengkulu dengan alasan load factor rendah,” ujar Erna.

Ia menilai, pendekatan bisnis semata tidak seharusnya menjadi dasar utama dalam menentukan keberlanjutan rute penerbangan, terlebih bagi wilayah yang masih membutuhkan penguatan konektivitas.

Menurut Erna, terdapat daerah lain dengan tingkat keterisian penumpang yang bahkan lebih rendah, namun rute penerbangannya tetap dipertahankan oleh maskapai pelat merah tersebut.

“Di beberapa wilayah lain load factor-nya di bawah Bengkulu, tapi rutenya tetap ada. Sementara Bengkulu justru ditinggalkan. Ini yang saya katakan tidak adil,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya kehadiran negara dalam memastikan pemerataan akses transportasi udara, khususnya di daerah yang belum berkembang secara optimal.

Erna juga menyinggung simbol penting yang melekat pada Bandar Udara Fatmawati Soekarno. Menurutnya, tidak pantas jika bandara yang menyandang nama Ibu Negara pertama Indonesia justru kehilangan layanan dari maskapai nasional.

“Bandara ini menyandang nama besar Fatmawati Soekarno. Tapi jangan diperlakukan tidak adil hanya karena hitung-hitungan bisnis,” ujarnya.

Ia pun mendorong pemerintah dan Garuda Indonesia untuk menghadirkan kebijakan afirmatif, agar konektivitas udara tidak hanya berbasis profitabilitas, melainkan juga mempertimbangkan aspek keadilan wilayah.

“Jangan hanya berpikir profitability dan load factor. Negara harus hadir dengan kebijakan afirmatif agar seluruh daerah mendapatkan akses yang sama,” tutup Erna.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *