Jakarta, GK — Anggota Komisi V DPR RI, Hj. Erna Sari Dewi, S.E, M.H, menyampaikan kritik tajam terkait ketimpangan pembangunan dan konektivitas yang dialami Provinsi Bengkulu dalam rapat bersama Menteri Pekerjaan Umum (PU) serta Dirut Garuda Indonesia.
Dalam pernyataannya, Erna secara blak-blakan menilai Bengkulu selama ini “mengalah” dalam berbagai aspek pembangunan, mulai dari darat, laut, hingga udara.
“Bengkulu ini mengalah dalam banyak hal, baik di darat, laut, maupun udara sekarang,” tegasnya.
Dari sisi darat, Erna menyoroti lambannya pembangunan jalan tol di wilayah Bengkulu. Ia menyebut tol Bengkulu yang saat ini baru sepanjang 16,7 km dari total rencana 95,8 km belum terintegrasi dalam jalur utama Jalan Tol Trans Sumatera. Padahal, menurutnya, posisi Bengkulu sangat strategis sebagai simpul penghubung antarprovinsi.
“Kalau kita mengharapkan dari jalur darat untuk keluar dari Bengkulu, itu terlalu jauh waktu tempuhnya. Kondisi jalan nasional juga masih banyak yang rusak,” ujarnya.
Selain itu, persoalan klasik di sektor maritim juga kembali disorot. Tingginya sedimentasi di alur pelabuhan disebut menjadi penghambat utama masuknya kapal-kapal besar ke Bengkulu.
“Setiap tahun sedimentasi menutup pintu alur. Kapal besar tidak bisa masuk dan harus berlabuh di luar,” jelasnya.
Tak hanya itu, ESD juga menyinggung sektor transportasi udara yang dinilai semakin tertinggal. Ia mengkritik keputusan Garuda Indonesia yang menghentikan rute penerbangan ke Bengkulu dengan alasan rendahnya tingkat keterisian penumpang (load factor).
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak mencerminkan pemerataan konektivitas nasional. Ia bahkan membandingkan dengan daerah lain yang memiliki load factor lebih rendah namun tetap dipertahankan rutenya.
“Jangan hanya berpikir dari sisi bisnis. Harus ada kebijakan afirmatif dari negara, bukan semata-mata soal profitabilitas,” tegas Erna.
Ia juga menyoroti ironi yang terjadi pada Bandar Udara Fatmawati Soekarno yang menyandang nama Ibu Negara pertama, namun dinilai tidak mendapatkan perhatian yang layak dari sisi layanan penerbangan.
Di sisi lain, Erna turut mengingatkan tingginya risiko bencana di Bengkulu. Ia meminta perhatian serius dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika terkait mitigasi gempa dan potensi tsunami.
Menurutnya, Bengkulu berada di zona rawan karena terletak di pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, gempa dengan kekuatan sekitar 5 skala Richter kerap terjadi.
“BMKG harus memberikan perhatian penuh. Bengkulu ini wilayah rawan gempa dan tsunami, karena patahannya memang berada di wilayah ini,” pungkasnya.
Pernyataan Erna tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dan konektivitas tidak hanya soal efisiensi ekonomi, tetapi juga keadilan bagi seluruh wilayah Indonesia.(Red)







