Bahagia Bukan Tujuan Akhir

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam hidup berumah tangga, bahagia bukanlah tujuan akhir. Jika bahagia menjadi tujuan akhir, maka manusia akan melakukan apapun dengan segala cara, demi mencapai tujuan akhir tersebut.

Seperti gambaran sebuah perjalanan atau travelling, jika bahagia itu dijadikan sebagai tujuan akhir yang hendak dicapai dari perjalanan itu, maka orang tidak peduli dengan kondisi perjalanan.

Mungkin seseorang akan mengebut sengebut-ngebutnya, berkendara dengan ugal-ugalan, menyerobot, mencuri marka jalan, dan tindakan apapun –demi cepat mencapai tujuan.

Bahagia, adalah sebuah kondisi atau keadaan, dan bukan merupakan tujuan. Dalam sebuah travelling, kita bisa merasakan kebahagiaan di sepanjang perjalanan. Tidak harus menunggu sampai di tujuan, untuk mendapatkan kebahagiaan.

Jika seseorang bepergian dari Jakarta menuju Surabaya, tidak perlu menunggu tiba di Surabaya untuk bahagia. Kita bisa berbahagia sejak masih di Jakarta.

Kita bisa berbahagia selama dalam perjalanan. Kita bisa berbahagia di tengah kemacetan. Kita bisa berbahagia saat istirahat di rest area.

Kita bisa berbahagia ketika sudah tiba di Surabaya. Tak ada yang perlu ditunggu untuk bisa bahagia. Tak perlu ada yang dipersyaratkan untuk bahagia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *