GK -Perkembangan teknologi yang pesat saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Aktivitas sehari-hari seperti pekerjaan hingga transaksi jual beli kini semakin mudah dilakukan melalui teknologi, termasuk aplikasi digital.
Namun, kemajuan teknologi ini juga membawa dampak negatif, salah satunya adalah fenomena flexing atau kebiasaan memamerkan harta di media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube.
Flexing merupakan tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, atau barang-barang mewah dengan tujuan untuk menarik perhatian, mendapatkan pengakuan, atau menunjukkan status sosial. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi dan penghargaan dari orang lain.
Psikolog Dian Wisnuwardani pernah menyatakan bahwa flexing dapat berdampak buruk, baik bagi pelaku maupun para penontonnya. Ketika pelaku flexing mendapatkan pujian, hal itu dapat memicu kesombongan dan ketergantungan pada pengakuan orang lain. Selain itu, muncul rasa kewajiban untuk terus mengunggah sesuatu di media sosial, yang pada akhirnya menyebabkan kecemasan akan kehilangan perhatian atau hubungan sosial.
Salah satu contoh nyata adalah kasus Indra Kenz, yang sering memamerkan gaya hidup mewahnya di media sosial. Pada Februari 2022, ia ditangkap atas dugaan penipuan investasi bodong, dan kekayaan yang selama ini dipamerkannya dinyatakan tidak wajar oleh pihak berwenang.
Menanggapi tren flexing, Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan pandangannya.
“Tren pamer harta via sosial media itu adalah bukti bahwa kita hidup di era yang penuh dengan budaya minta pengakuan. Orang-orang berlomba-lomba menunjukkan apa yang mereka miliki untuk mencari validasi dan pujian dari orang lain. Padahal, kekayaan sejati bukanlah apa yang ditampilkan, melainkan bagaimana kita bersyukur dan berbagi dengan sesama. Jika harta hanya untuk pamer, maka itu tidak akan membawa keberkahan,” ujar UAS.
Beliau juga menekankan pentingnya hidup sederhana dan introspeksi diri. Kebahagiaan, menurut UAS, bukan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari keikhlasan dalam menjalani hidup.
Fenomena flexing menjadi pengingat bahwa teknologi, meski bermanfaat, juga dapat membawa tantangan sosial yang memerlukan kesadaran dan bijaksana dalam penggunaannya.(Tedi)







