Kota Bengkulu, GK – Di tengah padatnya lalu lintas Kota Bengkulu, suara deru sepeda motor ojek online menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Di antara ratusan pengemudi yang lalu lalang mengantar penumpang maupun pesanan, ada satu sosok yang memiliki cerita berbeda. Ia adalah Novian Suryadi, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Ratu Samban, yang tetap menjalani profesi sebagai pengemudi ojek online Grab dan Maxim.
Bagi Novian, mengenakan jaket ojek online bukan sekadar cara mencari nafkah. Di balik helm dan kendaraan roda dua yang dikendarainya setiap hari, tersimpan semangat untuk tetap dekat dengan masyarakat. Jalanan menjadi ruang tempatnya berinteraksi dengan berbagai kalangan, mulai dari pekerja, mahasiswa, pedagang hingga ibu rumah tangga.
Rutinitas mengaspal di jalan-jalan Kota Bengkulu dijalaninya dengan penuh keikhlasan. Setiap pesanan yang diterima bukan hanya memberikan penghasilan halal untuk keluarga, tetapi juga membuka kesempatan mendengar langsung cerita, harapan, dan persoalan yang dihadapi warga.
Sebagai pimpinan partai di tingkat kecamatan, Novian mengaku tidak pernah merasa profesinya sebagai pengemudi ojek online bertentangan dengan tugas politik yang diembannya. Justru menurutnya, pengalaman bertemu masyarakat setiap hari menjadi modal penting untuk memahami kondisi riil di lapangan.
Percakapan singkat saat mengantar penumpang kerap menghadirkan beragam masukan. Keluhan mengenai infrastruktur lingkungan, pelayanan publik, hingga persoalan ekonomi keluarga sering muncul secara spontan. Bagi Novian, semua itu menjadi aspirasi yang layak didengar dan diperjuangkan melalui jalur organisasi maupun komunikasi dengan para pemangku kepentingan.
Prinsip itulah yang membuatnya tetap bertahan di profesi tersebut. Ia meyakini bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan secara jujur dan bertanggung jawab. Kerja keras, menurutnya, merupakan kehormatan yang patut dibanggakan.
Kisah Novian juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari ruang rapat atau balik meja. Kedekatan dengan masyarakat justru terbangun melalui interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyusuri gang-gang permukiman hingga jalan protokol di Kecamatan Ratu Samban, ia dapat melihat langsung dinamika yang terjadi di tengah warga.
Semangat itu pula yang ingin terus dijaga. Di sela aktivitas politik dan organisasi, Novian tetap memilih turun ke jalan, mengantar penumpang dengan senyum ramah sambil membuka telinga terhadap setiap cerita yang disampaikan masyarakat.
Bagi Novian Suryadi, roda sepeda motor yang terus berputar menjadi simbol perjalanan pengabdian yang tidak pernah berhenti. Dari jalanan, ia belajar tentang kehidupan, kerja keras, dan pentingnya mendengar suara rakyat secara langsung. Baginya, pengabdian kepada masyarakat tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh ketulusan untuk hadir, bekerja, dan memberikan manfaat bagi sesama.(Red)






