Laut Mediterania – Angkatan Laut Israel pada Rabu malam (1 Oktober 2025) mulai mencegat dan mengambil alih sejumlah kapal dari armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan ke Gaza, di perairan internasional. Pihak Israel mengonfirmasi telah menahan sekitar aktivis dari seluruh dunia, termasuk tokoh terkemuka seperti aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg.
Peristiwa ini telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Israel yang mengeluarkan pernyataan bahwa armada tersebut telah “dihentikan dengan aman” dan para penumpangnya, termasuk aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, sedang dipindahkan ke pelabuhan Israel.
Dalam sebuah klip video, Israel menuduh para relawan bertindak “secara ilegal dan menimbulkan ‘ancaman langsung terhadap keamanan Israel dan warganya’ sekaligus membahayakan diri mereka sendiri” dengan mendekati blokade maritim Gaza.
Pihak Israel sebelumnya telah mengeluarkan peringatan radio kepada armada, menginstruksikan mereka untuk mengubah jalur dan menuju ke pelabuhan Ashdod di Israel agar bantuan dapat dibongkar dan ditransfer ke Gaza.
Sebaliknya, Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa misi mereka adalah perjalanan damai untuk menyampaikan bantuan tanpa kekerasan dan dilakukan sesuai dengan hukum internasional. Mereka membawa persediaan vital seperti makanan, air bersih, popok, dan susu formula bayi untuk populasi di Gaza yang menghadapi krisis kelaparan.
Seorang anggota komite pengarah GSF, Thiago Avila, menyatakan,
“Kami membawa makanan, bantuan, filter air, tongkat penopang, susu formula bayi untuk warga Gaza yang kalian (Israel) biarkan kelaparan hingga mati.”
Para aktivis, termasuk Greta Thunberg, yang turut serta dalam misi ini, telah mengecam tindakan Israel sebagai “kejahatan” dan “pembajakan ilegal” di perairan internasional.
Sebelum pencegatan, GSF juga melaporkan adanya upaya sabotase, termasuk pemblokiran komunikasi dan sinyal radar kapal mereka oleh pihak Israel.







