Oleh: Cahyadi Takariawan
Jabalah bin Al-Iham adalah Raja Ghassan yang terakhir. Suatu ketika, saat sedang thawaf, pakaiannya terinjak oleh seorang lelaki Badui bani Fazarah.
Sebagai seorang raja yang merasa memiliki kedudukan mulia, Jabalah marah dan menempeleng Badui yang menginjak pakaiannya.
Laki-laki itu mengadu kepada Khalifah Umar bin Khathab. “Jabalah bin Al-Iham menempelengku,” katanya.
Umar memanggil Jabalah, “Kau memukulnya?” tanya Umar. “Bayarlah tebusan atas pukulanmu. Jika tidak, kuperintahkan dia untuk membalasmu,” lanjut Umar.
“Bagaimana bisa demikian? Aku ini seorang raja sementara dia hanya orang pasar?” tanya Jabalah keheranan.
“Islam menjadikan kalian berdua setara,” jawab Umar.
“Aku menyangka, setelah memeluk Islam aku lebih mulia dibanding di masa jahiliyah,” ungkap Jabalah.
Umar menjawab, “Tinggalkan itu semua. Tidak bermanfaat sama sekali. Bayar tebusan atau engkau dihukum setimpal.”
“Kalau begitu aku pindah agama Nasrani,” jawab Jabalah.
Demikianlah kisah Jabalah Al-Iham. Seorang raja yang pernah berjumpa orang hebat sekaliber Umar bin Khathab. Bahkan masuk Islam di hadapan Umar. Pernah melaksanakan ibadah thawaf di Ka’bah. Tapi hingga akhir hidupnya berada dalam kondisi murtad dari Islam.
Bersyukur kita mendapatkan hidayah iman dan Islam. Sudah selayaknya kita jaga dan kita pertahankan hingga akhir hayat.
Jangan sampai kesombongan dan keangkuhan karena posisi, jabatan, popularitas, atau kekayaan, membuat kita terlena dan membuang hidayah.







