Walikota Bengkulu Soroti Fenomena Lem Aibon hingga Geng Motor

Bengkulu, GK – Pemerintah Kota Bengkulu menggelar Pertemuan Lintas Agama guna mempercepat visi mewujudkan “Kota Bengkulu Bersinar” (Bersih dari Narkoba).

Acara yang berlangsung di Ruang Hidayah I Kantor Walikota pada Selasa (28/7/2026) ini dihadiri langsung oleh Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bengkulu Yeni Puspita, Ketua DPRD Kota Herimanto, Kepala BNN Kota, Ketua FKUB Kota Yulkamra, serta Kepala Kesbangpol Saipul Apandi dan tamu undangan lainnya.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya di hadapan para pemuka agama, Walikota mengungkapkan keprihatinan mendalam atas angka prevalensi narkoba di wilayahnya yang kini menyasar usia produktif, mulai dari pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa.

“Ada berapa pengguna narkoba di Kota Bengkulu? Nama istilahnya adalah prevalensi jumlah persentase dari total penduduk, kurang lebih 1,3 persen. Artinya, dari sekitar 409.900 jiwa warga Kota Bengkulu, jika di angka kan itu mencapai kurang lebih 4.000 orang. Itu angka yang banyak jika kita lihat dalam nominal,” ujar Dedy.

Dedy mengaku sempat menantang Kepala BNN Kota Bengkulu untuk mencanangkan satu kelurahan yang benar-benar bersih total dari narkoba. Namun, realita di lapangan menunjukkan tantangan yang sangat berat.

“Jawabannya, Tidak bisa, Pak. Artinya apa? Narkoba itu sudah menjalar ke mana-mana. Dan yang sangat membuat kita prihatin, pengguna narkoba ini berada di usia produktif yang tentu meruntuhkan ketahanan kota,” tambahnya.

Selain narkoba konvensional, Pemkot Bengkulu menyoroti tren berbahaya baru di kalangan remaja, yaitu penyalahgunaan lem Aibon demi mendapatkan efek halusinasi. Modus yang digunakan semakin rapi dengan menyembunyikan kantong lem di dalam pakaian. Dedy mengingatkan bahwa dampak dari menghirup lem ini berujung pada kerusakan otak dan saraf permanen.

Tak hanya itu, fenomena kenakalan remaja seperti geng motor bersenjata tajam yang dikoordinasikan lewat media sosial juga menjadi perhatian serius. Menurut Dedy, benteng pertahanan terbaik untuk menangkal fenomena ini adalah kepekaan orang tua dan ketahanan keluarga.

“Survei membuktikan bahwa rata-rata anak yang terjerumus narkoba berasal dari latar belakang keluarga yang broken home, atau orang tua yang kurang memberikan perhatian. Seharusnya, jika anak belum pulang jam 10 malam, orang tua sudah peka dan mencari. Namun, masih ada orang tua yang cuek,” tegas Walikota.

Menghadapi ancaman ini, ia meminta para ustaz, pendeta, serta pemimpin umat Hindu dan Buddha untuk proaktif menyisipkan pesan antinarkoba dalam setiap khotbah dan tausiah secara berulang demi menanamkan doktrin positif pada jemaah.

Secara regulasi, Pemkot Bengkulu bersama DPRD telah menetapkan langkah hukum konkret melalui penerbitan Perda No. 4 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), Prekursor, serta Zat Adiktif Lainnya.

Tim Terpadu P4GN dan Relawan Anti-Narkoba juga telah dibentuk secara masif hingga tingkat kelurahan dengan dukungan anggaran penuh.

Di akhir arahannya, Walikota turut menitipkan pesan terkait rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga fasilitas umum dan kebersihan. Ia menyayangkan aksi vandalisme seperti pembakaran tong sampah di area pantai hingga pencurian komponen taman di kawasan Kampung Cina.

“Mari bersama-sama kita pupuk rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kota ini. Kebiasaan-kebiasaan buruk masa lalu harus kita tinggalkan demi kemajuan Bengkulu,” pungkas Dedy. (Rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *