Bengkulu, GK – Kinerja perekonomian Provinsi Bengkulu pada Triwulan I-2026 tetap menunjukkan tren positif di tengah tekanan sektor pertambangan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 4,72 persen secara tahunan (year-on-year).
Pertumbuhan ini terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, meskipun sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi cukup dalam sebesar minus 32,20 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penahan laju pertumbuhan, namun mampu diimbangi oleh kinerja kuat sektor lainnya.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan capaian 19,73 persen. Disusul sektor jasa keuangan dan asuransi yang tumbuh 14,31 persen serta jasa lainnya sebesar 10,30 persen. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi Bengkulu tetap tumbuh solid sebesar 5,46 persen.
Dari sisi struktur ekonomi, sektor pertanian masih mendominasi dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 32,27 persen. Kemudian diikuti oleh sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 13,07 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 9,21 persen.
Secara regional, kontribusi ekonomi Bengkulu terhadap PDRB Pulau Sumatera tercatat sebesar 2,10 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi Sumatera secara keseluruhan mencapai 5,13 persen, dengan Provinsi Kepulauan Riau mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,04 persen.
Selain itu, kondisi ketenagakerjaan juga menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,23 persen, turun tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah pengangguran juga berkurang sebanyak 244 orang menjadi 36.748 orang.
Penyerapan tenaga kerja didominasi oleh sektor pertanian dengan porsi 46,61 persen, diikuti sektor perdagangan sebesar 15,44 persen dan sektor pendidikan sebesar 6,11 persen. Namun demikian, proporsi pekerja informal meningkat menjadi 63,83 persen, menunjukkan struktur pasar kerja yang masih didominasi sektor nonformal.
Dari sisi kualitas tenaga kerja, tingkat pengangguran masih didominasi lulusan Diploma, SMA, dan SMK. Sementara itu, mayoritas penduduk bekerja berasal dari kelompok pendidikan SD ke bawah, yang mencerminkan tantangan dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Di sisi lain, indikator sosial turut menjadi perhatian. Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Provinsi Bengkulu tahun 2025 tercatat sebesar 0,396, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan masih adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam akses terhadap peluang ekonomi dan partisipasi di pasar kerja.
Berdasarkan hasil SUPAS 2025, jumlah penduduk Bengkulu mencapai 2,14 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,30 persen per tahun. Rasio ketergantungan tercatat sebesar 45,46, sementara fenomena penuaan penduduk mulai terlihat di sejumlah wilayah.
Secara keseluruhan, perekonomian Bengkulu pada awal 2026 menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Namun, sejumlah tantangan struktural seperti ketergantungan pada sektor primer, tingginya pekerja informal, serta ketimpangan gender masih perlu menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan pembangunan ke depan.(Rls)







