BENGKULU, GK – Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menghadirkan inovasi sosial melalui program Wakafein. Program ini mengajak masyarakat berwakaf uang dengan cara sederhana, yakni menikmati secangkir kopi berkualitas sembari berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan berbasis pondok pesantren.
Program tersebut menjadi salah satu kegiatan menarik dalam gelaran Bencoolen Fest 2026 yang diselenggarakan di halaman parkir Bencoolen Mall. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati kopi khas Bengkulu, tetapi juga berpartisipasi dalam kegiatan wakaf yang ditujukan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi pesantren.
Wakafein merupakan inisiatif yang menggabungkan potensi komoditas kopi lokal dengan pengembangan wakaf uang. Melalui pendekatan ini, Bank Indonesia ingin memperkenalkan bahwa wakaf tidak terbatas pada aset berupa tanah atau bangunan, tetapi juga dapat dilakukan dalam bentuk uang untuk mendukung kegiatan produktif dan sosial.
Agus Rewayudi, mahasiswa yang terlibat sebagai anggota Generasi Baru Indonesia (GenBI), menjelaskan bahwa program Wakafein dijalankan melalui kolaborasi dengan pelaku usaha kopi lokal.
Menurutnya, kopi dipilih karena Bengkulu memiliki potensi komoditas kopi yang cukup besar, terutama jenis robusta dan arabika.
“Bank Indonesia menunjukkan bahwa wakaf itu tidak hanya dalam bentuk tanah saja, tapi wakaf itu juga bisa dalam bentuk uang,” jelas Agus saat ditemui di lokasi kegiatan.
Ia menerangkan, kopi yang dipasarkan dalam program tersebut dibeli oleh Bank Indonesia dari petani binaan, kemudian bekerja sama dengan mitra usaha untuk diperkenalkan kepada masyarakat.
Skema ini diharapkan dapat memperluas pemasaran kopi lokal sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat dalam kegiatan wakaf produktif.
Dana Wakaf Disalurkan untuk Pemberdayaan Pesantren
Dari sisi pengelolaan dana, kontribusi wakaf yang diberikan pengunjung disalurkan melalui Badan Wakaf Indonesia (BWI).
Dana tersebut selanjutnya diarahkan untuk mendukung pengembangan usaha produktif di lingkungan pondok pesantren yang telah menjalin kerja sama dalam program tersebut.
Salah satu bentuk kegiatan yang direncanakan adalah pengembangan budidaya ikan lele. Usaha produktif semacam ini diharapkan dapat membantu pesantren membangun kemandirian ekonomi sekaligus mendukung keberlangsungan kegiatan pendidikan.
Melalui mekanisme tersebut, Wakafein tidak hanya mengedukasi masyarakat mengenai wakaf uang, tetapi juga memperkenalkan peluang pemanfaatan dana wakaf untuk kegiatan yang memiliki manfaat berkelanjutan.
Agus menambahkan, program Wakafein telah dimulai sejak 2025. Ke depan, kolaborasi dengan pelaku usaha kopi lainnya juga berpeluang dikembangkan untuk memperluas promosi kopi khas Bengkulu.
Dengan demikian, program ini berpotensi menghubungkan tiga sektor sekaligus, yakni pengembangan komoditas kopi lokal, penguatan ekosistem wakaf uang, dan pemberdayaan ekonomi pesantren.
Pengunjung Apresiasi Konsep Ngopi Sambil Berwakaf
Program Wakafein juga mendapat tanggapan positif dari pengunjung Bencoolen Fest 2026. Salah seorang pengunjung, Arun, menilai kegiatan tersebut menawarkan pengalaman berbeda karena memadukan aktivitas menikmati kopi dengan kepedulian terhadap pendidikan.
Menurutnya, masyarakat memperoleh kesempatan menikmati kopi berkualitas sekaligus ikut berkontribusi melalui wakaf.
“Sangat bagus sekali, kita berharap selalu ada gebrakan seperti ini,” ujar Arun.
Kehadiran Wakafein memperlihatkan bagaimana kegiatan ekonomi kreatif dapat dikembangkan bersamaan dengan program sosial. Di satu sisi, kopi lokal mendapat ruang promosi yang lebih luas. Di sisi lain, masyarakat diperkenalkan pada instrumen wakaf uang yang dapat mendukung kegiatan produktif dan pendidikan.
Bencoolen Fest 2026 dijadwalkan berakhir pada Minggu (11/10/2026). Program Wakafein menjadi salah satu kegiatan yang mempertemukan promosi produk lokal dengan upaya mendorong kepedulian sosial masyarakat di Provinsi Bengkulu.(Red)






