Psikolog: Media Sosial Jadi Pintu Utama Awal Perselingkuhan

Ilustrasi media sosial

GK – Kasus perselingkuhan semakin marak dan kerap menjadi pembahasan hangat di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook.

Fenomena ini memunculkan banyak diskusi tentang penyebab utamanya, mulai dari ketimpangan ekonomi dalam rumah tangga hingga kurangnya rasa syukur terhadap pasangan.

Psikolog Rahmi Dahnan dari Kemang Medical Care mengungkapkan bahwa perkembangan media sosial kini menjadi salah satu pemicu awal perselingkuhan.

Dalam wawancaranya yang dikutip dari lifestyle.bisnis.com, Rahmi menjelaskan bahwa baik suami maupun istri memiliki peluang yang sama untuk berselingkuh melalui media sosial.

“Media sosial membuka banyak peluang bagi pasangan untuk keluar dari koridor pernikahan. Tidak sedikit yang memulai komunikasi yang tidak pantas dengan orang lain di luar pasangan mereka,” ujar Rahmi.

Menurut Rahmi, ada tiga penyebab utama perceraian yang sering ditemuinya dalam praktik:

1. Perselingkuhan – Media sosial menjadi pemicu utama karena mempermudah interaksi dengan orang baru.

2. Ketimpangan Ekonomi – Pendapatan istri yang lebih besar dari suami sering memicu ketegangan dalam rumah tangga.

3. Kurangnya Tanggung Jawab Suami – Banyak suami yang tidak bekerja dan mengandalkan istri sebagai penopang utama ekonomi keluarga.

“Tidak jarang saya mendengar kasus suami yang tidak memberikan kontribusi apa pun untuk keluarga, tetapi malah bersikap galak, tidak mau membantu pekerjaan rumah, dan bahkan menghabiskan tabungan istri,” tambahnya.

Media sosial memudahkan individu untuk menemukan orang lain yang dianggap lebih menarik atau memahami mereka lebih baik daripada pasangan sah.

Hal ini sering kali menjadi awal perselingkuhan emosional yang kemudian berkembang menjadi hubungan fisik.

“Media sosial tidak hanya membuka jalan, tetapi juga memberikan ruang bagi seseorang untuk menyembunyikan aktivitas mereka dari pasangan,” kata Rahmi.

Rahmi menyarankan agar pasangan lebih terbuka dalam berkomunikasi dan membangun kepercayaan satu sama lain. Selain itu, penting untuk menetapkan batasan yang jelas dalam penggunaan media sosial.

“Pasangan juga harus saling mendukung, baik secara emosional maupun finansial. Ketidakseimbangan tanggung jawab dalam rumah tangga sering menjadi pemicu ketegangan yang berujung pada perselingkuhan,” jelasnya.

Dengan kesadaran dan usaha bersama, pasangan dapat meminimalkan risiko konflik rumah tangga yang dipicu oleh media sosial maupun faktor lainnya.(Ns)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *