BENGKULU, GK – Hari-hari pertama menjadi mahasiswa di Universitas Bengkulu (Unib) tidak hanya diisi dengan pengenalan gedung, sistem perkuliahan, organisasi, dan lingkungan kampus.
Ribuan mahasiswa baru justru diajak melihat lebih jauh tentang masa depan, mengenali potensi diri, berani menyampaikan gagasan, membangun jejaring, hingga mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi benang merah rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unib 2026 yang berlangsung di tingkat universitas dan fakultas.
Pada PKKMB tingkat universitas yang digelar 3–4 Agustus 2026, sebanyak 4.875 mahasiswa baru mendapat motivasi dari kreator konten sekaligus aktivis sosial Sadam Permana Winaya.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu mengajak mahasiswa menjadikan kampus bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi ruang untuk menempa keberanian, integritas, kepedulian, dan kemampuan menghadapi persoalan sosial.
Semangat tersebut kemudian berlanjut dalam PKKMB tingkat fakultas pada 5–8 Agustus 2026. Masing-masing fakultas menghadirkan figur dengan latar belakang berbeda, mulai dari aktivis, kreator konten, alumni, pejabat publik hingga tokoh lembaga negara.
Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), sebanyak 935 mahasiswa baru mendapat motivasi dari aktivis mahasiswa sekaligus Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra.
Dalam sesi yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Kamis (6/8/2026), Fathimah mengajak mahasiswa memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan jabatan.
Menurutnya, kepemimpinan terlihat dari keberanian seseorang merespons keadaan dan mengambil tanggung jawab.
Sebagai calon pendidik, mahasiswa FKIP juga didorong peka terhadap berbagai persoalan pendidikan, seperti kesenjangan fasilitas sekolah, keterbatasan ruang belajar yang dapat menghambat kreativitas siswa, serta persoalan penghargaan dan kesejahteraan guru.
Fathimah menegaskan, peran guru jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru memiliki tanggung jawab membentuk cara berpikir, karakter, dan budi pekerti peserta didik.
Sementara itu, PKKMB FISIP Unib menghadirkan tiga narasumber, yakni kreator konten Fadhil Hary Mukti, alumni yang kini menjadi pejabat daerah Dr. H. Syarifudin, S.Sos, M.Si, serta alumni penerima beasiswa LPDP Yogi Kurniawan, S.A.P.
Fadhil mengajak mahasiswa tidak hanya bertanya apa yang bisa diperoleh dari kampus, tetapi juga apa yang dapat diberikan kepada lingkungan.
“Jangan hanya bertanya, di sini saya dapat apa? Coba sesekali bertanya, di sini saya bisa bantu apa?” ujarnya.
Sementara Syarifudin mendorong mahasiswa mengenali potensi, aktif berorganisasi dan membangun relasi. Sedangkan Yogi membagikan pengalaman memperoleh beasiswa LPDP serta pentingnya menyiapkan target masa depan sejak awal kuliah.
Pesan lain datang dari Fakultas Pertanian. Alumni yang kini menjadi anggota Bawaslu Provinsi Bengkulu, Eko Sugianto, mengajak 893 mahasiswa baru tidak apatis terhadap politik.
Ia menilai mahasiswa pertanian memiliki posisi strategis dalam mendorong kebijakan yang mendukung ketahanan pangan dan regenerasi petani.
Menurut Eko, fenomena aging farmer menjadi tantangan serius karena mayoritas petani Indonesia berada pada usia yang relatif tua.
Rangkaian PKKMB tersebut memperlihatkan arah pendidikan Unib yang tidak berhenti pada pencapaian akademik. Mahasiswa baru didorong menjadi pribadi yang kritis, berkarakter, mampu membangun jejaring, berani mengambil peluang, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Sebab, bagi Unib, perjalanan menjadi insan unggul tidak dimulai setelah mahasiswa memperoleh gelar sarjana. Perjalanan itu dimulai sejak hari pertama mereka memasuki kampus dan memilih untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran dalam perubahan.(Rls)






