PALEMBANG, GK — Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Drs. H. Sumardi, M.M., mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan peduli terhadap lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Imbauan itu disampaikan setelah ia mengikuti bimbingan teknis (bimtek) Partai Golkar bagi anggota DPRD di Kota Palembang, 2–4 Oktober 2026.
Sumardi mengatakan kondisi kabut asap yang dirasakannya selama berada di Palembang menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Bengkulu. Ia meminta kepala desa, camat, serta tokoh masyarakat ikut mencegah praktik pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
“Solusinya adalah kepedulian kita semua, khususnya kepala desa, camat, dan para pemuka masyarakat di pedesaan dan di kelurahan, di kabupaten, untuk memberanikan diri mencegah dan mengimbau masyarakatnya untuk tidak membakar lahan, sengaja maupun tidak sengaja, di lahan darat maupun lahan gambut yang sangat rentan sekali,” kata Sumardi melalui pesan WhatsApp.
Ia menilai kondisi di Sumatera Selatan, Jambi, dan wilayah sekitarnya yang disebutnya belum mendapatkan hujan membuat lahan, terutama kawasan gambut, rentan terbakar. Sementara itu, Bengkulu dalam beberapa hari terakhir mengalami hujan sehingga risiko kebakaran diharapkan dapat ditekan.
Menurut Sumardi, dampak kebakaran hutan dan lahan bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas transportasi.
“Ada bau dan pemandangan yang tidak biasa ketika kami memasuki Kota Palembang. Di mana bau kebakaran hutan yang sangat menyengat dan diselimuti oleh asap tebal. Kebetulan kita tidak siap dengan masker. Ternyata kita turun dari mobil, banyak orang, baik di dalam hotel maupun di luar hotel, itu memasang masker,” ujarnya.
Sumardi juga menyinggung gangguan penerbangan yang dialami sejumlah peserta bimtek. Berdasarkan informasi yang diterimanya, sebagian narasumber dari Jakarta terlambat tiba karena penerbangan mengalami kendala jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
“Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II itu jarak pandangnya sangat singkat, tidak sampai 200 meter, sehingga sembilan penerbangan yang akan landing di Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang itu batal landing, kembali lagi ke penerbangan awal dan sebagian ke Jakarta,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak terhadap maskapai penerbangan maupun penumpang yang memiliki agenda di Palembang. Karena itu, pengalaman tersebut diharapkan menjadi peringatan bagi masyarakat Bengkulu agar tidak membiarkan pembakaran lahan berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
“Ini adalah pelajaran yang berharga bagi kita semua dan kita mengimbau kepada seluruh masyarakat dan kepada seluruh perangkat desa, perangkat lainnya, agar mengimbau kepada seluruh masyarakat tanpa kecuali agar tidak membakar lahan atau membakar apa pun itu di sekitarnya, termasuk lahan-lahan yang akan dibuka untuk produktif,” ujar Sumardi.
Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi di Bengkulu. Menurutnya, curah hujan yang mulai turun di Bengkulu menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menekan risiko kebakaran, namun kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan.
“Bagi kami, ini adalah suatu pelajaran untuk mengimbau kepada seluruh masyarakat Bengkulu, jangan sampai terjadi. Alhamdulillah di Bengkulu, kalau sekarang ini mudah-mudahan tidak terjadi kebakaran karena sudah mulai hujan lebat satu malam penuh,” tuturnya.
Sumardi mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan. Ia menekankan bahwa pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.(Red)






