Oleh : Cahyadi Takariawan
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis, akan cenderung memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik dibanding dengan anak-anak yang tumbuh dari keluarga bermasalah. Sudah banyak survei yang menunjukkan pengaruh kondisi kehidupan orang tua dengan perkembangan mental anak saat mereka dewasa.
Carey Oppenheim, Chief Executive Early Intervention Foundation (EIF), organisasi nirlaba yang fokus pada anak-anak bermasalah, menyebut pertengkaran orangtua memberi pengaruh besar pada anak.
Oppenheim mengingatkan bahwa konflik suami istri dalam kehidupan rumah tangga bisa menjadi kendala yang besar dalam perkembangan emosi anak di masa depan.
Profesor Gordon Harold, dari Fakultas Psikologi University of Sussex menyatakan, dari studi yang mereka lakukan bisa disimpulkan bahwa hubungan orang tua dengan anak memiliki pengaruh paling kuat dalam kesehatan mental anak jangka panjang. Menurutnya, hal ini bukan hanya memengaruhi satu generasi, tapi juga generasi selanjutnya di masa depan.
Oleh karena itu, proses pendidikan di dalam keluarga harus mewujudkan pemberdayaan yang aktif. Di rumah tak sekadar terjadi transformasi pengetahuan secara sepihak dan searah dari orang tua kepada anak-anak, akan tetapi terjadi proses pembelajaran bersama sebagai wujud kesadaran kosmopolis manusia terhadap alam, dengan landasan kesadaran akan nilai-nilai Rabbani (Ketuhanan). Di rumah, semua saling belajar dan tumbuh berkembang bersama dalam ketaatan dan kebaikan.
Interaksi pendidikan yang terjadi dalam keluarga tidak boleh terkungkung hanya kepada upaya untuk menghafalkan teori-teori, atau mengumpulkan konsep-konsep, akan tetapi harus sampai kepada dataran pencarian makna serta hakikat yang lebih mendalam untuk mendapatkan pemahaman yang utuh akan hakikat kehidupan dan kemanusiaan.
Untuk apa manusia diciptakan, darimana manusia berasal, dan akan kembali kemana kelak ketika sudah meninggal.







