Diminta Kementrian, Unib Siap Terima Mahasiswa FKG Tahun Depan

BENGKULU, GK — Universitas Bengkulu (Unib) menargetkan dapat membuka program studi kedokteran gigi dan mulai menerima mahasiswa baru pada 2027. Saat ini, proses penyusunan proposal dan persiapan perizinan tengah dilakukan.

Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si mengatakan, proposal pendirian fakultas kedokteran gigi (FKG) ditargetkan rampung pada Desember 2026. Setelah itu, dokumen tersebut akan diusulkan melalui LLDIKTI untuk diproses lebih lanjut ke Kementerian.

Bacaan Lainnya

“Kita menargetkan Desember ini proposalnya selesai, sehingga kita bisa usulkan ke LLDIKTI, Palembang, untuk selanjutnya diproses ke Kementerian,” jelas Indra saat acara coffee morning memperingati satu tahun kepemimpinannya di Pojok Skopus Unib, Selasa pagi (6/10/2026).

Menurutnya, target awal Unib adalah mahasiswa baru sudah dapat diterima pada 2027. Namun, apabila proses perizinan belum selesai sesuai jadwal penerimaan mahasiswa baru, pembukaan program studi tersebut akan ditunda hingga 2028.

“Target kita 2027, mudah-mudahan masih keburu untuk , tapi kalau tidak kita akan tunda di 2028. Tapi target kita, perizinan untuk kedokteran giginya sesegera mungkin dengan target 2027 bisa diterima mahasiswa,” ujarnya.

Indra menjelaskan, pada tahap awal kuota penerimaan mahasiswa kedokteran gigi diperkirakan sekitar 40 orang dalam satu angkatan. Jumlah tersebut mempertimbangkan kesiapan fasilitas pendidikan, khususnya sarana praktikum yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan kedokteran gigi.

“Biasanya kalau kuota pertama itu 40, ya 40 orang untuk satu angkatan, sama dengan kedokteran kita dulu kan juga begitu kan, 40, 50, baru dua tahun ini kedokteran kita kapasitasnya atau kuotanya menjadi 80,” jelasnya.

Ia mengatakan, peningkatan kapasitas mahasiswa Fakultas Kedokteran Unib tersebut berlangsung setelah program studi berjalan hampir 15 tahun. Karena itu, pembukaan kedokteran gigi juga akan dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur secara bertahap.

Kehadiran kedokteran gigi di Unib nantinya diharapkan melengkapi bidang pendidikan tenaga kesehatan yang telah tersedia. Saat ini, Unib telah memiliki sejumlah bidang kesehatan, seperti kedokteran, kebidanan, keperawatan, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan dan bidang lainnya.

Namun, pendidikan kedokteran gigi belum tersedia di Unib. Menurut Indra, pendirian program tersebut juga merupakan bagian dari penugasan kementerian kepada Unib.

“Ya, kalau konteksnya tenaga kesehatan, kita ini kan sebenarnya didukung sudah cukup banyak untuk dokter, untuk kebidanan, keperawatan, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, dan yang lain-lain. Tetapi kan kedokteran gigi belum ada,” ujarnya.

Dalam tahap awal pengembangan, Unib juga menghadapi tantangan terkait ketersediaan sumber daya manusia, terutama dosen dengan latar belakang dokter gigi.

“Makanya kita diminta oleh kementerian dalam bentuk penugasan, kita juga belum ada satu pun dosen dokter gigi,” kata Indra.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Unib akan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi yang memiliki sumber daya di bidang kedokteran gigi.

“Nah karena ini penugasan, kita akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, dengan Pemprov, dengan Pemkot, termasuk dengan perguruan tinggi bisa dari Unsri atau yang lain, sehingga kita bisa merangkul ini di awal sampai pada akhirnya nanti kita bisa dan menerima dosen dari dokter gigi,” pungkasnya.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *