Bengkulu, GK – Universitas Bengkulu (UNIB) bekerja sama dengan SEAMEO BIOTROP menggelar kegiatan National Training & Regional Seminar on Suboptimal Land Management and Utilization yang menghadirkan peserta serta narasumber dari berbagai negara ASEAN, seperti Myanmar dan Filipina, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi internasional dalam membahas pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan, konservasi lingkungan, serta peningkatan ekonomi masyarakat.
Rektor UNIB, Prof. Indra Cahyadinata, menegaskan agar seminar dan pelatihan yang digelar tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu menghasilkan langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat maupun dunia pendidikan.
“Jangan hanya seremonial saja. Harus ada tindak lanjut nyata yang bisa dirasakan manfaatnya,” ujar Prof. Indra saat membuka kegiatan.
Sementara itu, Deputy Director for Program Kemendikdasmen, Doni Yusri, menjelaskan bahwa SEAMEO BIOTROP merupakan pusat kajian biologi tropis di bawah koordinasi kerja sama kementerian pendidikan negara-negara ASEAN yang telah berdiri sejak tahun 1968.
Menurutnya, BIOTROP menjadi salah satu dari tujuh pusat kajian SEAMEO di Indonesia dengan fokus pada biodiversitas dan pengelolaan sumber daya alam tropis. Kajian yang dilakukan meliputi tumbuhan, hewan, biologi molekuler, hingga ekosistem laut.
Doni menyebut, dalam dua tahun terakhir SEAMEO BIOTROP mulai memperluas program dengan melibatkan guru dan kepala sekolah melalui pelatihan pendidikan lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Pada 2025 lalu, sekitar 150 sekolah dan lebih dari 500 guru di Indonesia telah mengikuti program tersebut.
“Tahun 2026 ini kami menargetkan kegiatan di sekitar 15 provinsi dengan empat program unggulan, yakni pengelolaan lahan suboptimal, ekonomi sirkular, smart carbon farming, dan geopark education model,” jelasnya.

Ia menerangkan, lahan suboptimal merupakan lahan yang mengalami degradasi atau memiliki karakteristik tertentu seperti terlalu asam, terlalu asin, rawa, gambut, maupun lahan pasang surut yang memerlukan teknologi khusus agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sementara itu, Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof Edi Santosa dan Kabid SMK menjelaskan Seminar Regional dan Pelatihan Nasional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi.
“Seminar Regional dan Pelatihan Nasional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi regional sekaligus meningkatkan peran guru SMK dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal
Melalui seminar regional ini, para peserta diharapkan dapat merumuskan solusi pengelolaan lahan yang tetap menjaga fungsi konservasi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Turut hadir mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Kabid SMK Rainer Atu.(Red)







