Oleh: Ahmad Nasti Nasution
Wartawan Politik
Ada yang berbeda dari kunjungan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Al Muzammil Yusuf, ke Bengkulu kali ini. Di tengah hiruk pikuk jadwal politik yang padat, beliau tetap menaruh ruang kecil — tapi bermakna besar — untuk bermain bola bersama kader dan masyarakat. Momen yang sederhana, namun justru di sanalah tampak sisi paling humanis dari seorang pemimpin: rendah hati, dekat dengan rakyat, dan memahami bahwa kepemimpinan sejati tak selalu diukur dari podium, melainkan dari cara ia berbaur di lapangan.
Bagi banyak orang, politik kerap diasosiasikan dengan ruang serius, penuh perhitungan, dan kadang kering akan kehangatan. Tapi tidak bagi Al Muzammil Yusuf. Ia membawa semangat yang berbeda — semangat bahwa politik juga bisa dibalut dengan kebersamaan, tawa, dan peluh di lapangan hijau. Dari sana, muncul filosofi sederhana: bahwa permainan bola, seperti halnya politik, adalah tentang kerja sama, strategi, dan saling percaya.
Siapa pun yang pernah menyaksikan Al Muzammil bermain sepak bola akan tahu, beliau bukan sekadar ikut-ikutan menggiring bola untuk pencitraan. Gerak tubuhnya luwes, pandangan matanya tajam, dan sentuhan kakinya menunjukkan jam terbang seorang yang benar-benar mencintai olahraga ini. Ia bermain dengan semangat, bukan demi sorak-sorai, tapi karena di setiap umpan dan gol, ada nilai-nilai yang ia tanamkan: sportivitas, disiplin, dan solidaritas.
Dalam banyak kunjungan ke daerah, agenda bermain bola bersama masyarakat seolah menjadi “ritual khas” Al Muzammil. Ia tidak segan turun ke lapangan becek, memakai kaus sederhana, dan berbaur tanpa sekat dengan siapa pun. Dari anak muda penggemar bola di kampung hingga tokoh masyarakat, semua bisa satu lapangan dengannya. Itulah bentuk komunikasi sosial yang jauh lebih efektif dari sekadar pidato panjang di atas panggung.
Olahraga, bagi Al Muzammil, adalah medium penyatuan hati. Ia paham betul bahwa sepak bola punya daya magis yang mampu melampaui perbedaan suku, latar belakang, bahkan pilihan politik. Di lapangan, semua sama: berjuang untuk satu tujuan, saling menopang, saling menutupi kelemahan. Filosofi itu pula yang ia bawa ke dalam kepemimpinan PKS.
Mungkin di situlah mengapa sosok Al Muzammil begitu mudah diterima kader dan masyarakat. Ia tidak menempatkan diri sebagai “Presiden Partai” yang berjarak, tapi sebagai “rekan sepermainan” yang bisa diajak bercanda, berlari, dan jatuh bangun bersama. Kepemimpinan yang humanis seperti ini menjadi oase di tengah citra politik yang sering kali kaku dan elitis.
Ketika bola digulirkan, Al Muzammil tidak hanya sedang bermain. Ia sedang menanamkan pesan bahwa politik harus punya jiwa — bahwa kekuasaan tanpa kehangatan adalah kesunyian. Setiap gol yang ia ciptakan mungkin tidak akan tercatat di papan skor profesional, tapi tercatat di hati mereka yang melihatnya turun langsung ke rumput, tanpa jarak, tanpa pencitraan.
Kehadirannya di Bengkulu menjadi bukti bahwa menjadi pemimpin tidak harus kehilangan sisi manusiawi. Bahwa seorang politisi bisa tetap menjadi sahabat rakyat, bisa berlari di tengah peluh bersama anak muda, dan tetap punya senyum tulus yang menyapa tanpa protokol panjang.
Dan mungkin, dalam setiap tendangan bola yang dilakukan Al Muzammil Yusuf, ada simbol bahwa perjuangan politik juga harus terus digerakkan: dengan semangat tim, kejujuran bermain, dan niat mulia untuk mencetak “gol kemenangan” bagi rakyat banyak.
Karena pada akhirnya, sebagaimana bola yang bulat dan tak selalu bisa ditebak arahnya, politik pun penuh dinamika. Tapi selama dimainkan dengan hati yang bersih, sportivitas, dan cinta pada rakyat — permainan itu akan selalu indah untuk disaksikan.







