Bengkulu – Kegiatan reses yang digelar Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, S.H, di SMAN 2 Bengkulu, Jumat (13/2/2026), diwarnai diskusi hangat seputar persoalan lingkungan.
Di hadapan para siswa dan tenaga pendidik, Usin menggagas pembentukan bank sampah sekolah sebagai langkah konkret mengatasi permasalahan sampah sejak dini.
Dalam pemaparannya, Usin menilai sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan. Menurutnya, pendidikan soal sampah tidak cukup berhenti pada materi di buku pelajaran, tetapi perlu diwujudkan melalui praktik langsung yang melibatkan seluruh warga sekolah.
“Sekolah ini tempat membentuk karakter. Kalau sejak SMA siswa sudah terbiasa memilah dan mengelola sampah, dampaknya akan terasa sampai ke rumah dan lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, bank sampah bukan sekadar tempat menampung sampah terpilah, melainkan sarana edukasi terpadu. Di dalamnya, siswa dapat belajar tentang sains lingkungan, manajemen, hingga kewirausahaan berbasis daur ulang.
Bahkan, hasil pengelolaan sampah bisa menjadi sumber pendanaan kegiatan siswa apabila dikelola secara profesional.
Menurut Usin, gagasan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan volume sampah dari hulu ke hilir. Ia menilai pengurangan sampah harus dimulai dari sumber penghasilnya, termasuk sekolah yang setiap hari menghasilkan sampah kertas, plastik, dan sisa makanan.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya kolaborasi antara Pemerintah Provinsi, DPRD, dan pemerintah kabupaten/kota untuk merumuskan kebijakan pendukung. Regulasi tersebut dapat berupa panduan teknis, integrasi dalam kurikulum, hingga dukungan sarana prasarana.
Usin juga menyinggung bahwa sebelumnya program bank sampah telah banyak diterapkan di tingkat RT dan kelurahan, menyasar ibu-ibu rumah tangga. Kini, menurutnya, saat yang tepat memperluas gerakan tersebut ke lingkungan pendidikan.
“Kalau gerakan ini berjalan serentak, dari rumah sampai sekolah, saya yakin pengurangan sampah bisa signifikan. Target kita bukan hanya bersih, tapi menuju budaya zero waste,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, ia mengajak para pelajar untuk menjadi pelopor gerakan peduli lingkungan di Kota Bengkulu.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan sekolah bisa menjadi titik awal perubahan itu,” tutupnya.(Red)







