Mukomuko, GK – Kegiatan Reses Masa Sidang Ke-III yang dilakukan Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Bengkulu, Andy Suhary, S.E., M.Pd., di Desa Pasar Sebelat berlangsung hangat dan penuh dialog terbuka. Warga memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan berbagai keluhan dan harapan, terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian, kondisi infrastruktur, serta kebutuhan penguatan UMKM desa.
Pertemuan yang difasilitasi oleh APBD Provinsi Bengkulu Tahun 2025, namun sarat makna. Warga yang hadir datang dengan membawa aspirasi yang selama ini belum tersampaikan secara langsung kepada pemerintah. Salah satu isu yang paling banyak dibahas adalah infrastruktur jalan, baik jalan kabupaten maupun jalan usaha tani. Warga menuturkan bahwa kerusakan jalan kerap menghambat aktivitas harian dan menguras biaya operasional petani.
“Kami butuh jalan yang layak pakai, Pak. Hasil panen sering terlambat dijual karena aksesnya sulit,” ujar seorang petani.
Keluhan berikutnya datang dari sektor pertanian, yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Para petani mengaku kesulitan mendapat pupuk, baik pupuk sayur-mayur, urea, KCL, hingga pupuk khusus kelapa sawit. Kelangkaan dan harga yang tidak stabil membuat mereka semakin terjepit.
“Tanpa pupuk, hasil panen turun drastis. Kami benar-benar butuh perhatian pemerintah,” keluh warga lainnya.
Tak hanya itu, program replanting sawit dari pemerintah juga menjadi sorotan. Warga merasa persyaratan replanting terlalu berat, sehingga banyak petani kecil kesulitan mendapatkan bantuan. Sebagai solusi, mereka meminta adanya dukungan pengadaan bibit sawit dan bibit buah-buahan agar mampu melakukan replanting secara mandiri. Menurut warga, bantuan bibit dapat membantu meningkatkan produktivitas kebun dan menurunkan beban biaya.
Persoalan penerangan listrik turut menjadi salah satu aspirasi penting. Warga menyebut bahwa mereka telah beberapa kali mengajukan permohonan ke PLN, tetapi hingga kini belum mendapat jawaban. Ketiadaan penerangan membuat aktivitas malam hari terbatas dan menimbulkan kekhawatiran soal keamanan.
Di sektor ekonomi, para pelaku UMKM berharap ada sentuhan dari pemerintah berupa bantuan modal usaha. Banyak usaha rumahan dan usaha mikro di desa tersebut yang sebenarnya berpotensi berkembang, namun terhambat minimnya permodalan dan akses pendampingan.
Menanggapi seluruh aspirasi itu, Andy Suhary menegaskan bahwa seluruh keluhan warga akan ia bawa dalam rapat dan pembahasan bersama dinas terkait. Ia memastikan bahwa reses bukan sekadar seremonial, tetapi momentum penting untuk menyerap aspirasi secara langsung.
“Saya datang untuk mendengar dan memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Semua ini adalah amanah yang harus saya kawal,” ujar Andy menutup pertemuan.
Reses tersebut menjadi ruang bagi warga Desa Pasar Sebelat untuk didengar, sekaligus pengingat bahwa pembangunan harus berpihak pada kebutuhan riil masyarakat.(Red)







