Oleh : Tifatul Sembiring
Pilkada Sumut: Untuk Perubahan dan Kesejahteraan SUMUT
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Horas, mejuah juah kerina
1.Ramai komentar netizen, saat PKS bergabung dengan koalisi yang mengusung Bobby Nasution – Surya di Pilkada Sumut.
2.Sebelumnya, di koalisi ini sudah bergabung partai-partai Golkar, Gerindra, Nasdem, PKB, Demokrat dan PAN mendukung Bobby-Surya. Nggak ada ribut-ribut, adem ayem saja. Mungkin saking ‘cintanya’ pada PKS, saat ikut bergabung jadi seru.
3.Ada yang menuduh PKS mendukung politik dinasti lah, suul khotimah, tergiur dana dan sebagainya. Bukan begitu saudara-saudaraku. Insya Allah PKS tidak berubah. Kami akan terus berjuang untuk perbaikan ummat dan bangsa yang sama-sama kita cintai ini. Cita-cita menegakkan keadilan dan meratakan kesejahteraan, berkhidmat untuk rakyat senantiasa kami perjuangkan. Bisa lihat rekam jejak PKS selama di Parlemen dan di Pemerintahan.
4.Masa pilkada 2024 ini PKS ‘mengurus’ dan menyeleksi cakada-cakada lebih dari 400 titik di Indonesia. Salah satunya adalah Pilgub Sumut.
5.Perolehan kursi DPRD Sumut dalam pileg 2024 lalu: Golkar 22, PDIP 21, Gerindra 13, Nasdem 12, PKS 10, PAN 6, Demokrat 5, PKB 4 dan seterusnya.
6.Syarat jumlah kursi untuk bisa mengajukan Calon Gubernur Sumut: 20 kursi. PKS tidak bisa mengusung sendiri, tidak cukup 10 kursi, harus berkoalisi dengan partai-partai lain.
7.Arahan umum pimpinan pusat PKS, bahwa koalisi di daerah tidak harus sama dengan koalisi di pilpres lalu. Koalisi pilkada di daerah, lebih cair. Beda karakteristik. Ada faktor-faktor: ketokohan, ketegasan, kapasitas kepemimpinan, dukungan politik dan masyarakat, dan lain-lain yang bersifat setempatan daerah. Faktanya juga begitu, pak Prabowo menang di Pilpres lalu, tapi Gerindra di Sumut bukan pemenang pileg.
8.Lebih kurang 6 bulan terakhir, nama bakal cagub Sumut yang muncul ke publik hanya 2 orang: Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution.
9.Dulu tahun 2018, PKS bersama partai-partai lain: Golkar, Gerindra, Nasdem, PAN dan Hanura bergabung mengusung pasangan Edy Rahmayadi -Musa Rajeksah. Pada sisi lain PDIP dkk mengusung: Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus.
10.Dulu 2018, Edy Rahmayadi melawan cagub PDIP. Sekarang 2024 beliau minta diusung PDIP. Ini realitas politik kita.
11.Komunikasi PKS dengan kedua cagub ini tentu terbuka. Tapi terus terang, kami sangat intensif dengan Pak Edy, sebab sudah ada pengalaman 5 tahun sebelumnya.
12.Tapi PKS kan nggak cukup kursi, jadi kami minta pak Edy agar berusaha mencari partai lain hingga mencapai 20%, agar bisa mengusung beliau. Nah, pak Edy mengatakan bahwa PDIP sudah oke.
13.Namun sampai lebih kurang 4 kali penundaan, bahkan sampai hari ini (7/8/2024), PDIP belum memberikan SK cagub kepada pak Edy. Belum ada kepastian, dan siapa cawagubnya. Jadi PKS Sumut harus menunggu sampai kapan?. Padahal ada batas-batas waktu, administrasi, jadwal pilkada, pendaftaran, syarat-syarat calon dan lain-lain yang harus dilengkapi semua.
14.Ada juga nada-nada yg agak menggelitik, dikirim ke WA saya. Pak Tif, sejak masa reformasi 1998, sudah 26 tahun belum ada Gubernur Sumut yang bermarga. Ha ha ha. Benar juga ya. Dari Melayu sudah, dari suku Jawa sudah. Yah sekali-kali boleh dong Gubernur yang bermarga di Sumut.
15.Diantara poin-poin kesepakatan kami dengan Cagub dan koalisi Bobby-Surya adalah pembangunan yang merata, bersikap adil, memajukan kesejahteraan masyarakat Sumut. Kita ingin Sumut maju dan bermartabat.
16.Jika ditakdirkan menang, PKS akan terus mengawal pasangan ini agar tidak melenceng dari kebaikan dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa ini.
17.Terakhir kami mohon maaf, jika ada ke salah pahaman, dan doa restu atas upaya-upaya maksimal kami dalam perjuangan pilkada ini. Bagi yang kurang berkenan dengan pilihan PKS, silakan memilih pasangan cagub-cawagub yang lain. Terimakasih (rls)







