Mendes RI Yandri Susanto Bagikan Kisah Haru Tentang Emak dan Perjuangan Masa Kecil

GK – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto membagikan kisah haru tentang perjuangan hidup dan kenangannya bersama sang emak semasa kecil. Cerita tersebut menyentuh banyak hati karena menggambarkan perjalanan hidup penuh keterbatasan hingga akhirnya berhasil menjadi pejabat negara.

Yandri menceritakan dirinya lahir di sebuah desa tertinggal bernama Palak Siring, Kabupaten Bengkulu Selatan. Semasa kecil, keluarganya hidup dalam kondisi sangat sederhana. Rumah tempat tinggalnya belum dialiri listrik, tidak memiliki kamar mandi, bahkan lantainya masih berupa tanah.

“Kalau mandi harus ke sungai sekalian mencuci baju. Saya berangkat sekolah berjalan berkilo-kilometer tanpa memakai sepatu karena memang tidak punya,” ungkap Yandri.

Ia juga mengenang bagaimana kedua orang tuanya bekerja sebagai petani. Sepulang sekolah, dirinya tidak bisa bermain seperti anak-anak lainnya karena harus membantu emak berkebun demi membantu keluarga.

Meski hidup dalam keterbatasan dan berteman dengan anak-anak dari keluarga pejabat maupun pegawai bank, Yandri mengaku tidak pernah merasa minder. Ia percaya setiap orang memiliki jalan perjuangan masing-masing.

“Saya yakin kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” katanya.

Salah satu momen paling membekas dalam hidupnya adalah ketika ia menyampaikan keinginan untuk kuliah kepada sang emak yang saat itu sedang menanam padi di sawah.

“Mak, Yandri mau kuliah,” kata Yandri kala itu.

Dengan mata berkaca-kaca, sang emak menjawab bahwa keluarga tidak memiliki uang untuk membiayai kuliah. Namun Yandri hanya meminta doa dan restu dari ibunya.

“Tidak apa-apa mak, Yandri cuma butuh doa emak saja,” ucapnya sambil menahan haru.

Berbekal tekad kuat, Yandri kemudian berangkat ke Kota Bengkulu hanya membawa sekarung beras. Demi bertahan hidup dan membiayai pendidikan, ia menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari marbot masjid dan tidur di bawah mimbar khatib, bekerja di tempat cuci mobil, hingga menjadi juru bayar listrik bagi warga kompleks.

Menurut Yandri, semua perjuangan itu menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga. Ia pun mengajak generasi muda agar tidak mudah menyerah menghadapi keadaan.

“Seberat apa pun keadaan kita, jangan pernah menyerah. Masa depan tidak ditentukan dari seberapa sulit kita memulai, tetapi seberapa kuat kita bertahan,” pesannya.

Di akhir ceritanya, Yandri menegaskan bahwa doa dan restu seorang ibu merupakan kunci terbesar dalam perjalanan hidup seseorang.

“Jika kamu ingin berhasil dalam hidup, jangan pernah melukai hati emak,” tutupnya penuh haru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *