Membangun Bangsa Dengan Pendidikan

Dodi Umartin, S.Pd,I - Tokoh Pemuda

Oleh : Dodi Umartin,S.Pd.I,M.Pd

GURU Dan Da’i

Negeri tercinta Indonesia, setiap tanggal 2 Mei memperingati hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan ini menjadi tanda betapa pentingnya kontribusi pendidikan bagi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa.

Ada kisah menarik yang terjadi di negara Jepang. Pada tahun 1945, saat Perang Dunia II sedang berlangsung, Amerika Serikat dan sekutunya berhasil menjatuhkan bom atom berkekuatan dahsyat di kota Hiroshima dan Nagasaki. Tercatat dalam sejarah, korban jiwa akibat bom atom sebanyak 214.000 jiwa dengan rincian korban di Hiroshima sebanyak 140.000 jiwa dan di Nagasaki sekitar 74.000 orang.

Saat itu kerugian yang dialami Jepang begitu besar. Efeknya Jepang mengalami kelumpuhan total yang akhirnya membuat Jepang menyerah pada sekutu. Ketika mendengar berita pemboman tersebut, Kaisar Hirohito selaku pemimpin tertinggi Jepang pada saat itu langsung mengumpulkan para Jenderal dan menanyakan “Berapakah jumlah guru yang tersisa?”. Pertanyaan mengenai jumlah guru yang tersisa ini membuat bingung para Jenderal. Lalu menegaskan kepada Sang Kaisar, bahwa mereka masih mampu menyelamatkan dan melindungi Kaisar, walau tanpa kehadiran para guru.

Menanggapi perkataan ini, Kaisar Hirohito mengatakan bahwa Jepang telah jatuh. Kejatuhan ini dikarenakan mereka tidak belajar. Jenderal dan tentara Jepang boleh jadi kuat dalam senjata dan strategi perang, tetapi tidak memiliki pengetahuan mengenai bom yang telah dijatuhkan Amerika.

Perhatian Kaisar Hirohito terhadap dunia pendidikan, kini dapat dilihat hasilnya. Kini negara Jepang menjadi negara yang maju baik dari kecanggihan sistem teknologi dan inovasi, kebijakan ekonomi yang efektif dan budaya kerja serta disiplin yang kuat.

Jepang menjadi negara maju, karena negaranya memprioritaskan pendidikan dan guru karena mereka menyadari bahwa guru berperan penting dalam membangun fondasi pendidikan yang kuat dan berkualitas di Jepang.

Sistem pendidikan di Jepang sangat dihargai dan guru-guru di Jepang menjadi contoh teladan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang kemudian memicu inovasi dan kemajuan di berbagai bidang.

Pembaca Sekalian, Memperhatikan realita di atas, dapat kita simpulkan bahwa pendidikan menjadi prioritas utama dalam kehidupan karena pendidikan menjadi tolok ukur bagi nilai kemajuan peradaban suatu bangsa.

Mengenai pentingnya pendidikan, ternyata Islam sudah menekankan sejak 1.400 tahun yang lalu sebagaimana sebagaimana dijelaskan dalam surat At Taubah ayat 122.

وَلِ۞يُنْوَذِمَارُوْاَكَقَنَوْامَلْهُمُمْؤْاِمِذَنُاوْنَرَجَلِيَعُنْ وْافِرُاِلَوْاْيِْمَْكَۤلَفذعَةً لذهُفَمْلَوَْلََيَْذَنَفَرُرَوْنَمِ نْࣖكُِِفِرْقَة مِِْنُْمْطَاۤىِفَة لِِيَتَفَذقهُوْا ٰفِالِِيْنِ

“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang).

Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?.(QS At-Taubah: 122).

Surat at Taubah ayat 122 turun berkaitan dengan adanya perintah jihad. Hal ini diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah yang berkata bahwa saat Allah menurunkan ayat:

“Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih” (Q.S. Al-Taubah : 39).

Ternyata ketika para sahabat pergi ke medan jihad, terdapat beberapa orang pedalaman yang tidak ikut ke medan perang karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka orang-orang munafik berkata: “Sungguh masih ada orang-orang yang berada di pedalaman. Maka celakalah mereka!”

Peristiwa itu terdengar sampai telinga Rasulullah saw, kemudian turunlah surat At Taubah ayat 22 tersebut. Surat at Taubah ayat 122 ini begitu jelas menerangkan bahwa tidak semua orang mukmin harus berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin saja.

Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi harus menuntut dan mendalami ilmu (tafaqquh fiddin).

Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat mengutamakan aspek pendidikan di tengah masyarakat. Bahkan dalam situasi perang saat itu, Allah masih memberikan perintah agar pendidikan masih tetap berjalan dan terlaksana.

Pada kesempatan ini,saya akan menyampaikan pentingnya pendidikan keluarga sebagai pondasi dasar bagi kemajuan suatu bangsa. Pentingnya

خَْيُُْكُْخَْيُُْكُِْلَِهِْلِِ، وَأََنَخَْيُُْكُِْلَِهْلِ:pendidikan keluarga dijelaskan Rasulullah saw:

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya, dan aku adalah yang terbaik bagi keluargaku.” (HR. Tirmidz).

Dari hadis tersebut, kita belajar bahwa kebaikan seseorang diukur dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.

Keluarga adalah tempat di mana kita pertama kali belajar tentang kasih sayang, kesabaran, dan pengorbanan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu memperlakukan keluarga dengan baik, penuh cinta, dan perhatian.

Untuk mencapai masyarakat yang berkualitas, kita pun harus memulainya dari pendidikan keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan membimbing anak-anak kita agar menjadi generasi yang berakhlak mulia, beriman, dan berilmu. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anak anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”

Pendidikan yang baik dan sesuai dengan perkembangan zaman akan membentuk karakter anak yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Selain itu, keluarga juga harus menjadi contoh dalam menjalankan nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, keadilan dan kebersamaan.

Ada pepatah Arab mengatakan,

” اذا صلحت اِلأرسة، صلح اجملمتع و اذا صلح اجملمتع، صلحت الوةل”

yang berarti “Jika keluarga baik, masyarakat juga akan baik. Dan jika masyarakat baik, negara juga akan baik.”

Pepatah ini menekankan betapa pentingnya ketahanan pendidikan keluarga dalam membangun masyarakat dan negara. Ketika setiap keluarga kokoh dan istiqomah menjalankan ajaran Islam, maka masyarakat akan menjadi lebih harmonis dan negara pun akan lebih kuat dan maju.

Sekali lagi marilah kita sebagai orang tua untuk terus menerus meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di dalam keluarga. Apa pun alasannya dan apa pun kesibukan orang tua, sekali lagi orang tua tidak boleh lalai sedikitpun terhadap pendidikan anak-anaknya, karena anak adalah calon generasi muda yang bakal mengganti dan meneruskan perjuangan orang tua.

Bila anak-anak generasai saat ini terlelap dalam media sosial dan pergaulan bebas, jauh dari pendidikan agama, jangan berharap negara dan agama Islam bisa berkembang lebih pesat dan kuat dari sebelumnya.

Mengapa terjadi demikian? Karena anak-anak adalah harapan besar dan tumpuan bagi orang tua di hari tua nanti. Coba bayangkan jika anak-anak terlantar, tidak tersentuh dengan pendidikan terutama pendidikan agama, bagaimana jadinya bangsa dan negara Indonesia. Kita sebagai orang tua yang akan merugi.

Empat belas abad lalu Rasulullah saw mengingatkan tentang pentingnya

قَالَالذنِبُِّصَذٰل ا ذَُّلل عَلَيْهِوَسَذَّل كُُّمَوْلُو د يُولَُعَٰلَالْفِطْرَةِحَذَّت يُعَرِِبَعَنْهُلِسَا نُهُفَأَبَوَاهُ.

ُّيَُوِِدَانِهِأَوْيُنَاِصَِِنِهِأَوْيُمَجِِسَانِهِ)رواه الط اربين والبْيقى(

“Semua anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (kejadian asal pertamanya adalah Islam), sehingga lisannya bisa berbicara. Adapun kedua orang tuanya itulah yang menyebabkan anak tadi menjadi yahudi, atau nasrani, atau menjadi majusi.” (HR.Thabrani dan Baihaqi).

Pada hadits tersebut, menerangkan dengan sangat jelas dan tegas bahwa orang tua mempunyai tugas utama di dalam membentuk kepribadian anak. Apakah anak nanti akan tumbuh menjadi orang yang shalih, cerdas, taqwa, atau sebaliknya, tumbuh menjadi orang sesat, berakhlak jahat, bodoh dan tak bertanggung jawab, semua tidak terlepas dari peran orang tuanya.

Menurut Imam Ghazali, anak merupakan suatu amanat dari Allah yang dibebankan kepada orang tua atau walinya. Hatinya yang masih suci itu bagaikan mutiara yang indah dan mahal harganya.

Jika anak itu sejak kecil telah dididik dan dibiasakan kepada kebaikan, sudah pasti dia akan tumbuh dengan baik, sehingga pada akhirnya dia termasuk golongan orangorang yang terbiasa berbuat kebaikan. Bahkan kedua orang tuanya dan setiap guru yang mendidiknya memperoleh pahala juga.

Sebaliknya jika anak itu selalu dididik dan dibiasakan kepada keburukan, dibiarkan saja tanpa diberi pengertian tentang kebaikan, niscaya pada akhirnya dia akan menjadi orang yang celaka, demikian pula kedua orang tuanya bakal menanggung dosanya yang tidak kecil.

Marilah kita sebagai orang tua kembali mengevaluasi dan menata diri, untuk terus menerus memotivasi dan memastikan agar putra putri kita memiliki bekal pendidikan agama yang baik. Marilah kita membangun bangsa dimulai dari yang terkecil, membangun ketahanan pendidikan keluarga dengan pendidikan Islam, karena dengan bekal agama itulah akan menjadi modal mengarungi samudera kehidupan.

Bagi yang berprofesi sebagai tenaga pendidik seperti guru dan dosen atau pendidikan di pesantren, selipkan materi pendidikan agama dan pendidikan karakter.

Ketika anak memiliki pondasi agama yang kokoh, apa pun profesinya nanti dikemudian hari, apakah dia menjadi pejabat, pebisnis, teknokrat, dokter, guru, dosen, ASN,

TNI/POLRI, pengusaha sukses, pun petani atau pun konten kreator sekalipun, dia akan selalu membawa nilai-nilai Islam dalam kehidupan, sehingga setiap aktifitas yang dilakukan akan berdampak pada kebaikan. Sehingga secara tidak langsung akan berdampak positif bagi pembangunan bangsa dan negara tercinta Indonesia.

Wallaahu’alam

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *