Jakarta, GK – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan inovasi untuk memperkuat kinerja pasar modal nasional. Salah satu terobosan yang dinilai signifikan adalah percepatan akses data perdagangan melalui penyempurnaan format distribusi data pada akhir Sesi I.
Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam menjawab kebutuhan pelaku pasar terhadap informasi yang lebih cepat, akurat, dan merata.
Seiring meningkatnya jumlah investor ritel serta intensitas transaksi harian, ketersediaan data yang relevan menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Selama ini, laporan perdagangan baru dapat diakses secara lengkap pada akhir hari atau end of day (EOD). Kondisi tersebut dinilai kurang optimal karena belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai dinamika pasar pada paruh pertama perdagangan.
Menjawab kebutuhan tersebut, BEI menghadirkan distribusi laporan perdagangan pada akhir Sesi I melalui Anggota Bursa.
Penyempurnaan ini mulai dinyatakan live pada 23 Agustus 2025 dan efektif diterapkan penuh sejak 25 Agustus 2025.
Mekanisme distribusi tetap menggunakan Daftar Transaksi Bursa (DTB) Anggota Bursa, namun dengan nilai tambah berupa percepatan waktu penyampaian informasi.
Implementasi kebijakan ini memberikan manfaat langsung bagi investor. Dengan akses data yang lebih awal, pelaku pasar dapat memantau kecenderungan harga dan volume transaksi sejak sesi pagi, kemudian menyesuaikan strategi untuk sesi perdagangan berikutnya.
Hal ini mendorong keputusan investasi yang lebih terukur dan berbasis data aktual.
Dampak positif kebijakan tersebut tercermin pada peningkatan nilai transaksi harian. Berdasarkan data BEI periode Januari hingga November 2025, sebelum diterapkannya distribusi data akhir Sesi I, rata-rata nilai transaksi pasar reguler tercatat sekitar Rp11,8 triliun per hari. Setelah kebijakan berjalan, angka tersebut melonjak menjadi Rp20,6 triliun per hari atau meningkat sebesar 73,83 persen.
Porsi transaksi pada Sesi I juga mengalami peningkatan. Sebelum implementasi, kontribusi transaksi sesi pagi berada di kisaran 53,34 persen terhadap total nilai transaksi harian.
Pasca percepatan distribusi data, porsinya meningkat menjadi 55,89 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor semakin aktif memanfaatkan informasi awal untuk menentukan langkah lanjutan.
Selain itu, selisih kontribusi transaksi antara Sesi I dan Sesi II turut mengalami perubahan. Gap transaksi yang sebelumnya berada di angka 6,69 persen meningkat menjadi 11,78 persen.
Kondisi ini mengindikasikan pasar menjadi lebih responsif dan dinamis karena investor memiliki dasar informasi yang lebih kuat dalam menentukan waktu masuk dan keluar pasar.
Lebih dari sekadar meningkatkan kecepatan, percepatan akses data ini juga memperkuat prinsip keterbukaan dan keadilan informasi.
Dengan distribusi data yang lebih merata dan tepat waktu, potensi terjadinya asimetri informasi dapat ditekan. Langkah ini menegaskan komitmen BEI dalam membangun pasar modal Indonesia yang transparan, efisien, dan berdaya saing di tingkat global.(Rls)







