7.500 Ton Pertalite Masuk Bengkulu, Kenapa Warga Masih Disuruh Antre?

Penampakan antrean BBM yang kerap bikin macet aktivitas lalu lintas

Oleh: Redaksi
Ada yang terasa janggal dalam persoalan BBM di Bengkulu.
Kapal pengangkut Pertalite sudah masuk. Bahkan bukan satu kapal. Dua kapal sekaligus membawa total sekitar 7.500 ton Pertalite ke Bengkulu.
Namun di sejumlah SPBU, antrean kendaraan masih terlihat mengular.
Lantas, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Terbaru, kapal SPOB Gaharu Oleum 18 berhasil sandar di Pelabuhan Pulau Baai pada Selasa, 25 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WIB. Kapal tersebut membawa sekitar 3.999 ton Pertalite untuk memenuhi kebutuhan BBM di Bengkulu.
Sehari berselang, Rabu, 26 Agustus 2026, kapal SPOB Srikandi 512 ETB juga berhasil bersandar dengan membawa sekitar 3.501 ton Pertalite.
Secara matematis, ada sekitar 7.500 ton Pertalite yang masuk melalui dua kapal tersebut.
Angka itu tentu bukan jumlah yang kecil.
Masyarakat pun wajar berharap setelah pasokan datang, situasi di SPBU kembali normal. Antrean berkurang dan warga bisa mendapatkan BBM tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam.
Tetapi kenyataan di lapangan ternyata belum sepenuhnya demikian.
Di sinilah masalahnya.
Publik selama ini kerap mendengar bahwa stok BBM aman. Pasokan tersedia. Kapal masuk. Distribusi berjalan.
Namun pertanyaannya: aman untuk siapa jika masyarakat masih harus antre panjang?
Bagi masyarakat, ukuran “stok aman” sebenarnya sangat sederhana. Datang ke SPBU, BBM tersedia, antrean wajar, lalu pulang.
Bukan melihat berapa ribu ton BBM yang berada di kapal atau terminal.
Sebab, sebanyak apa pun stok yang masuk ke Bengkulu tidak akan banyak berarti bagi masyarakat apabila distribusinya tidak segera sampai ke titik konsumsi.
Karena itu, jangan hanya melihat persoalan dari sisi hulu.
Kapal sudah sandar di pelabuhan. Pertalite sudah dibongkar. Tetapi bagaimana perjalanan BBM tersebut hingga sampai ke SPBU?
Apakah distribusinya berjalan cepat? Apakah seluruh SPBU mendapatkan pasokan secara merata? Apakah ada kendala armada, penyaluran atau faktor lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Sebab antrean BBM bukan sekadar persoalan pemandangan yang tidak sedap dilihat.
Ada pekerja yang terlambat bekerja. Ada pengemudi yang kehilangan waktu. Ada pelaku usaha yang aktivitasnya terganggu. Bahkan ada masyarakat yang harus mengorbankan waktu produktif hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.
Dalam kondisi seperti ini, komunikasi publik juga menjadi sangat penting.
Jika memang stok aman tetapi antrean masih terjadi karena persoalan distribusi, sampaikan secara terbuka. Jika ada kendala teknis, jelaskan. Jika membutuhkan waktu untuk normalisasi, berikan kepastian waktunya.
Masyarakat tentu bisa memahami jika ada kendala.
Yang sulit diterima adalah ketika pernyataan di atas kertas mengatakan aman, sementara kenyataan di lapangan mengatakan sebaliknya.
Pemerintah dan pihak terkait tidak cukup hanya memastikan kapal bisa masuk ke Pelabuhan Pulau Baai.
Yang lebih penting adalah memastikan Pertalite benar-benar tersedia di SPBU dan bisa diperoleh masyarakat secara normal.
Jangan sampai keberhasilan kapal sandar justru menjadi akhir dari cerita bagi pengelola, tetapi bagi masyarakat menjadi awal dari pertanyaan baru: “Kalau stok sudah masuk, kenapa kami masih harus antre?”
Sekali lagi, masyarakat tidak meminta sesuatu yang muluk.
Mereka hanya ingin BBM tersedia dan bisa dibeli tanpa harus mengantre berjam-jam.
Karena pada akhirnya, stok yang aman bukan sekadar BBM yang sudah tiba di Bengkulu. Stok yang benar-benar aman adalah ketika masyarakat tidak lagi melihat antrean panjang di SPBU.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *