Bengkulu, GK – Di lapangan hijau Stadion Semarak Sawah Lebar, Bengkulu, seorang bocah kecil berlari tanpa ragu. Kakinya lincah mengejar bola, matanya fokus menatap arah permainan.
Nomor punggung 89 melekat di jersey yang dikenakannya. Dialah Razidan Al-Ghifari, atau akrab disapa Zidan, bocah 10 tahun yang tengah menapaki jalan awal menuju mimpinya di dunia sepak bola.
Zidan bukanlah pemain yang tiba-tiba jatuh cinta pada si kulit bundar. Sepak bola telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak usia dini. Di halaman rumah, di sela waktu bermain, hingga sore hari selepas sekolah, bola hampir selalu ada di dekatnya.
Bersama sang kakak, Raffa Effendi Akamaru, Zidan menghabiskan banyak waktu menendang bola, meniru gerakan pemain idolanya, dan berkhayal suatu hari bisa bermain di stadion besar.
Lahir di Kota Bengkulu pada 20 Januari 2016, Zidan tumbuh dalam keluarga yang memberikan dukungan penuh terhadap minat dan bakatnya.
Kedua orang tuanya, Iwan dan Novi, tak pernah memaksakan kehendak, namun selalu hadir memberi semangat. Mereka percaya, mimpi anak harus dirawat dengan dukungan, bukan tekanan.
Keseriusan Zidan mulai terlihat saat ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda (IM). Di bawah asuhan Coach M. Nasir pelatih yang dikenal berpengalaman dan disiplin Zidan tak hanya belajar teknik dasar sepak bola, tetapi juga nilai kedisiplinan, kerja sama, dan mental bertanding.
Baginya, latihan bukan beban, melainkan kesempatan untuk terus berkembang.
Pada Turnamen Sepak Bola Usia Dini U-11 ASL 2026, Zidan mendapatkan panggung untuk menunjukkan kemampuannya.
Meski usianya masih belia, ia tampil percaya diri, berani berduel, dan tak gentar menghadapi lawan. Kecepatan dan naluri bermainnya kerap membuat penonton menoleh. Ia bukan sekadar ikut bertanding, tetapi belajar menghadapi tekanan dan menikmati proses kompetisi.
Di luar lapangan, Zidan tetaplah anak sekolah. Ia tercatat sebagai siswa kelas 4 SDN 05 Kota Bengkulu. Waktu belajarnya tetap dijaga, menjadi pengingat bahwa pendidikan dan olahraga harus berjalan seimbang.
Baginya, mimpi menjadi pesepak bola profesional tak boleh mengabaikan kewajiban sebagai pelajar.
Zidan menyadari, jalan menuju cita-cita masih panjang. Namun langkah kecil yang ia ambil hari ini adalah fondasi masa depan.
Dengan latihan yang konsisten, bimbingan pelatih, serta doa dan dukungan keluarga, Zidan terus mengejar mimpinya—mimpi sederhana seorang bocah Bengkulu yang ingin tumbuh bersama sepak bola, dan suatu hari mengharumkan daerahnya dari lapangan hijau.







