Pemerintah Percepat Pemulihan Akses, 24 Desa Aceh Tengah Masih Terisolir

Keterangan Foto: Akses jembatan Bailey yang menghubungkan Bireuen dengan Kabupaten Bener Meriah sudah dapat dilalui di atas Sungai Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, Aceh, sejak Selasa (16/12/2025). Jembatan sepanjang sekitar 180 meter ini kembali menghubungkan akses darat Bireuen–Aceh Tengah yang terputus akibat banjir bandang, sekaligus memperlancar mobilitas warga dan distribusi logistik pascabencana. Foto: Infopublik/Amiriyandi

Takegon, GK -Sebanyak 24 desa di Kabupaten Aceh Tengah hingga kini masih mengalami keterisolasian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu. Pemerintah terus berupaya memulihkan akses jalur darat ke sana.

Sesuai data yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, tercatat wilayah yang masih terisolir tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.

“Total penduduk yang terdampak mencapai 10.914 jiwa,” kata Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, Kamis (15/1/2026).

Di Kecamatan Bintang, satu desa yang masih terisolir adalah Desa Serule dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 582 jiwa. Akses menuju desa tersebut, kata Murthalamuddin, belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat timbunan longsor pada badan jalan.

Selanjutnya, Kecamatan Ketol menjadi wilayah dengan desa terisolir terbanyak. Desa-desa yang terdampak meliputi Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah, dengan total penduduk terdampak mencapai 4.951 jiwa. Keterisolasian di wilayah ini disebabkan karena terputusnya jembatan serta longsor yang menutup badan jalan.

“Sebagian desa sudah mulai bisa dilalui kendaraan roda dua seperti desa Serempah dan Bah, namun akses roda empat masih belum dapat melintas,” ujar Murthalamuddin.

Di Kecamatan Silih Nara, Murthalamuddin menyebutkan terdapat dua desa yang masih terisolir, yakni Terang Engon dan Bius Utama Dusun Gantung Langit, dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 254 jiwa.

“Akses menuju kedua desa tersebut tidak dapat dilalui baik menggunakan roda dua maupun empat akibat putusnya jembatan Mulie dan jembatan Gantung Langit,” sebutnya.

Sementara itu, di Kecamatan Rusip Antara terdapat lima desa yang masih terisolir, yaitu Pilar Jaya, Pilar Weh Kiri, Tirmiara, Mekar Maju, dan Arul Pertik, dengan total penduduk terdampak 2.765 jiwa. Murthalamuddin mengatakan akses kendaraan roda dua ke sejumlah desa mulai terbuka, namun kendaraan roda empat masih belum dapat melintas akibat timbunan longsor serta putusnya sejumlah jembatan di wilayah tersebut.

Adapun kecamatan terakhir yang masih mengalami keterisolasian berada di Kecamatan Linge. Di wilayah ini, desa-desa yang masih terisolir, sebut Murthalamuddin, meliputi Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang, dengan total penduduk terdampak mencapai 2.362 jiwa. Keterisolasian di wilayah ini umumnya disebabkan putusnya Jembatan Kala Ili serta longsor di sejumlah titik jalan.

“Akses kendaraan roda dua hanya bisa ke Desa Penarun dan Umang, untuk kendaraan roda empat masih belum dapat melintas,” jelasnya.

Murthalamuddin menyampaikan, pemerintah terus berupaya mempercepat penanganan darurat serta pemulihan akses ke wilayah-wilayah yang masih terisolir, termasuk melalui pembukaan jalur darat sementara dan penanganan infrastruktur yang rusak akibat bencana.

“Upaya penanganan terus dilakukan secara bertahap agar akses masyarakat kembali normal, terutama di desa-desa yang hingga kini masih terisolir,” kata Murthalamuddin.(Rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *