Ini Kata Ulama Sikapi Perbedaan 1 Syawal

Bengkulu, GK – Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri kembali menjadi perhatian masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Iip Aripin memberikan penjelasan melalui sesi tanya jawab terkait sikap bijak yang dapat diambil umat Islam.

Dalam pertanyaan yang disampaikan warga, disebutkan bahwa mereka telah mengikuti awal puasa berdasarkan keputusan Kementerian Agama Republik Indonesia. Namun, keluarga besar di kampung dimana tempat ia mudik telah lebih dulu menetapkan Idulfitri, sehingga muncul kebingungan untuk menentukan sikap.

“Apakah kami ikut keluarga di dusun atau tetap mengikuti pemerintah yang Idulfitri lusa?” demikian isi pertanyaan yang diajukan.

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Iip Aripin menjelaskan bahwa perbedaan seperti ini merupakan hal yang kerap terjadi di Indonesia dan bukan persoalan benar atau salah, melainkan perbedaan ijtihad yang memiliki dasar syar’i.

Menurutnya, secara fiqih terdapat dua pendapat yang sama-sama kuat. Pertama, tetap mengikuti keputusan pemerintah dengan menyempurnakan puasa menjadi 30 hari. Pendapat ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi tentang pentingnya mengikuti kebersamaan umat dalam berpuasa dan berhari raya.

Pendapat kedua adalah mengikuti masyarakat sekitar atau keluarga, seperti yang dilakukan sebagian kelompok, termasuk Muhammadiyah. Dalam pandangan ini, Idulfitri dipandang sebagai momentum kebersamaan yang perlu dijaga.

Dalam kasus di mana keluarga besar telah lebih dahulu merayakan Idulfitri, sementara hanya sebagian kecil anggota keluarga yang berbeda, Ustaz Iip menyarankan agar mengutamakan kebersamaan dan menjaga keharmonisan.

“Ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menjaga hati orang tua, silaturahmi, dan menghindari keganjilan dalam keluarga,” ujarnya.

Ia pun menilai, dalam kondisi tersebut, diperbolehkan untuk mengikuti perayaan Idulfitri bersama keluarga di dusun dengan niat mengikuti jamaah atau mayoritas di lingkungan sekitar.

Sebagai konsekuensi, kekurangan satu hari puasa dapat diganti (qadha) setelah Ramadan. Menurutnya, solusi ini menjadi jalan tengah antara menjaga persatuan dan tetap memenuhi kewajiban ibadah.

Ustaz Iip juga menegaskan bahwa Islam tidak mempersulit umatnya, serta menempatkan nilai kebersamaan dan penghormatan kepada orang tua sebagai bagian penting dalam kehidupan beragama.

“Lebaran adalah momen kebersamaan, bukan perpecahan,” tutupnya.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *