Pelabuhan Pulau Baai Tak Kunjung Bisa Dilewati, Pengusaha Merugi

Masyarakat Bersama DPRD melihat progres pengerjaan Pengerukan alur pulau Baai Bengkulu pada kamis (10/4/25). (Ist)

GK, Bengkulu — Pendangkalan alur masuk di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu kian mempersulit aktivitas bongkar muat kapal. Dampaknya, para pengusaha merugi dan ribuan awak kapal kehilangan mata pencaharian. Tak hanya itu, krisis pasokan juga mulai dirasakan oleh masyarakat Pulau Enggano.

Ketua Forum Lintas Asosiasi Maritim di Pelabuhan Pulau Baai, Marwan S. Ramis, menyampaikan kekhawatirannya atas keterlambatan pengerukan alur pelabuhan yang tak kunjung rampung.

Bacaan Lainnya

Ia menegaskan bahwa kondisi ini menyebabkan mandeknya aktivitas pelayaran, hingga menimbulkan kerugian besar bagi pengusaha.

“Ribuan awak kapal menggantungkan hidupnya dari aktivitas pelayaran. Sekarang mereka terpaksa menganggur karena kapal tidak bisa keluar masuk pelabuhan. Selain itu, retribusi parkir kapal masih terus berjalan, padahal kapal terpaksa parkir karena alur yang dangkal, bukan karena kehendak kami,” kata Marwan, Kamis (10/4/2025).

Ia juga menyayangkan belum adanya kebijakan penghapusan retribusi parkir dari otoritas pelabuhan, meski aktivitas pelayaran terhenti akibat faktor teknis.

Kondisi ini juga turut disoroti oleh anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain. Dalam inspeksi mendadak yang dilakukannya, ia menyatakan kekhawatirannya terhadap dampak krisis logistik yang kini dirasakan masyarakat di Pulau Enggano.

“Stok telur di sana hanya cukup untuk dua hari ke depan. Pasokan minyak juga terancam habis. Sementara itu, para petani pisang mengalami kerugian karena hasil panen tak bisa dikirim keluar,” ungkap Teuku.

DPRD, menurutnya, mendesak Pelindo untuk segera menuntaskan persoalan ini.

“Jika Pelindo tidak sanggup menyelesaikannya, maka diambil alih oleh pemerintah daerah saja. Jangan sampai rakyat menjadi korban ketidakmampuan manajemen pelabuhan,” tegasnya.

Situasi ini menjadi alarm bagi semua pihak agar lebih sigap dalam menangani infrastruktur vital, terutama pelabuhan yang menjadi nadi ekonomi dan logistik masyarakat di pesisir dan kepulauan.(Nasti)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *