Perkuat Pelayaran Nasional, Arnantara Dorong Indonesia Kuasai Nilai Ekonomi Ekspor

JAKARTA, GK— Direktur Utama PT Armada Niaga Nusantara (Arnantara), Prof. Amarulla Octavian, menegaskan pentingnya memperbesar porsi Indonesia dalam nilai ekonomi maritim yang dihasilkan dari ekspor berbagai komoditas strategis nasional.

Hal itu disampaikan Prof. Amarulla saat menjadi panelis dalam forum Danantara’s Maritime Industry Dialogue: Accelerating Indonesia’s Maritime Corridor Development yang digelar Danantara di Wisma Danantara Indonesia, Selasa (6/10/2026).

Forum tersebut turut dihadiri Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi, COO BPI Danantara/Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian RI Setia Diarta, CTO BPI Danantara Sigit Puji Santosa, para direktur utama BUMN, pimpinan perusahaan, serta asosiasi industri maritim.
Dalam forum tersebut, Prof. Amarulla menjelaskan bahwa penguatan industri pelayaran nasional menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat ekonomi dari aktivitas ekspor komoditas strategis dapat lebih banyak dinikmati Indonesia.

“PT Arnantara berperan sebagai operating holding yang bermitra dengan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam memperkuat ekosistem industri pelayaran dan angkutan laut nasional,” kata Amarulla, Selasa (6/10/2026).

Saat ini, struktur organisasi PT Arnantara telah diperkuat dengan dua direktur, sekretaris perusahaan, auditor internal, kepala hukum perusahaan, delapan kepala divisi, dan dua kepala departemen. Perseroan juga telah menetapkan Komisaris Utama Siwi Sukma Adji dan Komisaris Darwanto.

Dalam program kerja 100 hari, Arnantara tengah menyusun sejumlah fondasi operasional perusahaan, termasuk RKAP 2026, RJPP 2027-2032, serta berbagai standar operasional prosedur (SOP) dan uraian tugas masing-masing unit kerja.

Selain penguatan organisasi, Arnantara juga menyiapkan pemenuhan kebutuhan kapal-kapal besar untuk mengangkut komoditas strategis Indonesia. Pengadaan kapal akan dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari pembelian kapal bekas, pembangunan kapal baru, hingga penyewaan kapal.

Langkah tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak berganda bagi industri maritim nasional. Meningkatnya jumlah kapal yang menjalani perawatan maupun pembangunan kapal baru diperkirakan turut mendorong aktivitas galangan kapal di dalam negeri.

Prof. Amarulla yang juga Wakil Ketua BRIN ini menyoroti pentingnya penerapan mekanisme Cost, Insurance and Freight (CIF) dalam kegiatan ekspor komoditas strategis Indonesia. Menurutnya, mekanisme tersebut dapat mendorong peningkatan premi asuransi maritim sekaligus memperbesar nilai ekonomi yang dinikmati industri nasional.

Di sisi lain, penguatan armada pelayaran nasional juga berpotensi membuka lapangan kerja bagi ribuan pelaut Indonesia yang nantinya bekerja di kapal-kapal PT Arnantara.

“Manfaat penguatan industri pelayaran tersebut juga diharapkan dapat dirasakan melalui kolaborasi dengan berbagai perusahaan nasional, termasuk PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), dan PT ASDP Indonesia Ferry,” jelas dia.

Melalui kolaborasi tersebut, Arnantara berupaya membangun ekosistem pelayaran nasional yang lebih kuat sekaligus mendukung percepatan pembangunan koridor maritim Indonesia. (Rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *