Bengkulu, GK — Polemik yang sempat mencuat di SDIT Rabbani Bengkulu akhirnya berujung pada Perdamaian. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan melalui jalan islah setelah komunikasi dan kesalahpahaman yang terjadi berhasil diklarifikasi.
Ketua Yayasan Ma’had Rabbani, KH. M. Syamlan, mengatakan persoalan tersebut telah diselesaikan melalui komunikasi bersama yang menghasilkan kesepakatan damai.
“Alhamdulillah persoalan sudah clear dan semuanya berdamai. Ini yang sangat penting,” kata KH. M. Syamlan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terlibat, termasuk tiga guru yang sebelumnya berselisih dengan pihak sekolah, karena bersedia menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Menurutnya, persoalan yang terjadi lebih banyak dipicu miskomunikasi dan kesalahpahaman. Setelah komunikasi dilakukan secara terbuka, kedua belah pihak akhirnya dapat memahami persoalan masing-masing.
“Persoalannya itu yang paling penting bukan persoalan permintaan, tapi adalah terjadinya damai,” ujarnya.
Syamlan menegaskan, perdamaian tersebut juga menjadi momentum untuk tetap menjaga hubungan silaturahmi meskipun hubungan ketenagakerjaan antara ketiga guru dengan SDIT Rabbani telah berakhir.
Pihak yayasan, kata dia, sebenarnya masih memberikan kesempatan kepada ketiga guru tersebut untuk kembali mengajar di SDIT Rabbani. Namun, ketiganya memilih untuk beristirahat terlebih dahulu.
“Kita tawari mereka untuk tetap mengajar, tapi mereka dengan berbesar hati, dengan legowo, untuk sementara ini katanya mereka istirahat dulu,” jelasnya.
Dengan demikian, per hari ini ketiga guru tersebut sudah tidak lagi memiliki hubungan kerja dengan SDIT Rabbani. Meski demikian, pihak yayasan tetap membuka kemungkinan apabila di kemudian hari mereka bersedia kembali.
“Karena tadi sudah kita tawarkan juga untuk kembali masuk. Tetapi mereka belum siap, jadi per hari ini mereka sudah tidak lagi mengajar di SDIT Rabbani,” katanya.
Terkait kompensasi yang disepakati, Syamlan kembali menekankan bahwa hal tersebut bukan inti dari penyelesaian persoalan.
Menurutnya, yang terpenting adalah tercapainya perdamaian dan tidak adanya lagi tuntutan dari kedua belah pihak di kemudian hari.
“Kesepakatan kita bahwa persoalannya itu bukan sekadar persoalan pesangon, tapi persoalan tercapainya damai,” ungkapnya.
Proses penyelesaian tersebut turut melibatkan Dinas Ketenagakerjaan Kota Bengkulu melalui Kepala Dinas beserta pihak mediator. Kesepakatan juga melibatkan pihak yayasan dan ketiga guru yang bersangkutan.
Syamlan menyebut seluruh pihak telah saling menyampaikan permintaan maaf dan ucapan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin selama ini.
“Sudah kita sampaikan sama-sama, saya minta maaf, saya juga berterima kasih kepada mereka dan mereka juga berterima kasih dan juga minta maaf sudah sepanjang itu saling bekerja sama,” tuturnya.
Ia berharap berakhirnya polemik tersebut tidak memutus tali silaturahmi antara pihak yayasan dengan ketiga mantan guru SDIT Rabbani.
“Jangan sampai persoalan begini menjadikan tidak silaturahmi,” pungkasnya.(Red)






